Kamis, 10 November 2011

Antara Cinta dan Coklat

Sewaktu SMA saya punya temen, namanya Indah. Orangnya cantik, kulitnya putih, idungnya mancung, badannya langsing, tapi brewokan!
(kira-kira kamu mau nggak, sama cewek cakep, tapi brewokan?? Kaya osama bin laden!).
Nggak kog, Indah nggak brewokan. Paling nggak, Indah nggak brewokan di bagian dagunya!


Banyak cowok di sekolah yang naksir sama dia, termasuk saya. Tapi nggak tau kenapa, kayaknya Indah susah banget buat menerima salah seorang diantara
kamicowok-cowok itu. Yang jelas, Indah adalah tipe cewek yang punya prinsip berkenaan dengan cinta. Hal itu saya tau ketika waktu itu,, kbetulan saya bisa makan bareng sama dia di jam istirahat.

"Ndah' aku boleh nanya nggak?" saya mencoba menanyakan apa yang waktu itu membuat saya penasaran.

"emang kamu mau nanya apa, Riz?" kata Indah.

"kira-kira, nomer togel yang bakal keluar minggu depan, berapa ya??"{emangnya Indah itu jin. . .?}

"kenapa sich kog sampe skarang kamu belum punya pacar? Khan banyak tuch, cowok-cowok di sekolah ini yang naksir sama kamu? Temen-temen di luar sekolah juga pastinya ada khan, yang jatuh cinta sama kamu?" tanyaku ke Indah di pagi yang setengah siang itu. Mendengar pertanyaan itu, Indah tersenyum ke arah saya. Kemudian dia menjawab gini "soalnya, kebanyakan orang yang naksir dan nyatain cinta sama aku itu, ngga' ngerti apa arti cinta. . . ."

Jawaban Indah terus terang membuat saya bingung? Bagaimana dia bisa tau bhwa cowok-cowok yang naksir sama dia, ngga' ngerti apa itu cinta? "emang gimana kamu bisa tau, kalo cowok-cowok yang nembak kamu, ngga' pada tau apa arti cinta?" Tanyaku ke Indah.
"emmm, begini Riz. Setiap kali ada laki-laki yang nyatain cinta sama aku. Aku akan minta dia bawain coklat yang paling enak, sebelum aku menjawab apakah aku menerima atau menolak dia." terang Indah.
Emang apa hubungannya, cinta sama coklat, Ndah?" tanyaku penasaran.
"Nah, itu dia Riz. Cinta itu sebenarnya identik dengan coklat. Kamu suka ngga' sama coklat?" Indah malah berbalik nanya ke saya.
"iya, aku suka banget sama coklat"
"emang kenapa kamu suka sama coklat?" tanya Indah lagi.
"ya, karna coklat itu khan emang enak, Ndah. Rasanya manis, udah gitu katanya coklat itu banyak manfaatnya buat tubuh kita. Tapi kurang b'manfaat buat dompet kita!" mendengar jawaban saya, Indah kembali tersenyum.

"kalo kamu suka coklat. Nich, aku punya coklat buat kamu". Lalu Indah menyodorkan sebatang coklat berukuran kecil, b'bntuk kotak yang terbungkus almunium foil. Saya pun menerima coklat itu, dan membuka bungkusnya.

"ich,apaan nich? kug pahit banget!!" komentar saya sambil meringis saat memakan coklat yang Indah kasih tadi.


"heuheuheu. . .itu dia riz, banyak orang yang ngomong suka sama coklat. Tapi sebenernya dia ngga ngrti apa itu coklat? Yang kamu suka itu, sebenernya bukan coklat yang sesungguhnya. Tapi coklat yang telah dibumbui dengan berbagai macam bahan lain. Seperti gula, susu, penyedap, dan lain sbagainya, yang membuat coklat itu jadi brasa manis, dan lezat. Kadang, kandungan coklat itu sendiri jauh lebih sedikit dibandìngkn bahan campurannya." jawab Indah sambil ketawa, melihat saya meringis saat memakan coklat yang dia kasih.
"memang bener, Riz. Coklat itu sangat bagus untuk tubuh kita. Tapì kenapa banyak orang yang suka makan coklat, mereka bukannya sehat, tapi malah menderita akibat dari coklat yang dimakannya? Hal itu juga karna campuran dari coklat itulah yang membuat kita menjadi tidak sehat. Campuran-campuran coklat tersebut bisa menyebabkan tubuh kita jadi tidak sehat seperti terkena obesitas, kencing manis, atau gigi jadi keropos."
"beda, dengan kandungan coklat aslinya. Yang justru membuat tubuh kita menjadi sehat. Karna coklat mengandung anti oksidan yang tinggi." keterangan dari Indah barusan, membuat saya jadi paham tentang seputar coklat. Dimana selama ini, saya telah salah menganggap bahwa yang namanya coklat itu, rasanya manis dan lezat.

"terus, apa hubungannya dengan cinta, Ndah?" saya jadi penasaran apa maksud dari perkataan Indah bahwa cinta itu seperti coklat.

"Gini, Riz. Pada dasarnya, cinta akan memberikan kebahagiaan kepada kita, dalam hidup ini. Sama seperti coklat yang akan membuat tubuh kita menjadi sehat, saat kita mengkonsumsinya. Tapi, kadang cinta yang kita jalani adalah cinta yang banyak dicampuri oleh bumbu-bumbu."
"contohnya, ketika ada orang yang saling jatuh cinta. Awalnya si cowok or cewek akan nembak pasangannya atas dasar cinta. Dan setelah yang ditembak menerima, apa yang akn terjadi?? Pasti mereka akan pacaran khan? Nah, pacaran itu adalah salah satu bumbu dari cinta. Setelah itu, mungkin karna dirasa kurang manis atau kurang lezat, maka kembali cinta itu dibumbui oleh hal-hal lain. Seperti; peluk'kan, ciuman, bahkan sampe 'ML'. Dan semua itu dilakukan dengan tetap mengatasnamakan cinta. Sama seperti sebatang coklat, yang meskipun lebih banyak bumbu campurannya itu sendiri, tapì tetep aja disebut sebagai coklat".
"nah, skarang kalo kamu setiap hari disuruh mengonsumsi coklat dengan merek dan rasa yang sama, yang awalnya kamu anggap paling enak dan manis. Maka apa yang akan kamu rasakan, Riz?" Indah kemudian bertanya ke saya.

"waduh, walaupun aku suka sama coklat itu. tapi kalo aku disuruh makan terus-terusan setiap hari, mungkin aku juga akan merasa bosenlaah! Dan yang pasti, aku akan tertarik untuk mencicipi coklat dengan merek ataupun rasa yang berbeda." jawab saya sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran saya.

"Yupz, itulah yang akan terjadi Riz. karna yang kamu inginkan bukanlah coklat yang sebenernya. melainkan bumbu-bumbu yabg terkandung pada coklat itu sendiri. maka kamu mungkin mempunyai keinginan untuk mencoba coklat merk lain, yang memberikan bumbu berbeda. Begitu juga halnya, ketika hubungan cinta lebih banyak dipenuhi oleh bumbu-bumbu yang lain. mungkin, lama-kelamaan pasangan tersebut akan merasa kebosanan. Dan menganggap bahwa diluar sana, ada cinta yang menawarkan sesuatu yang lebih indah, dibandingkan dengan cinta yang saat ini sedang dijalani. Maka saat itulah, hubungan cinta akan terasa hambar, dan rentan akan perpecahan. Dan kamu tau Riz, hampir semua cowok yang naksir dan nembak aku. Saat aku meminta mereka membawakan coklat yang paling enak, maka mereka akan membawakan coklat yang rasanya manis dan telah banyak tercampur bumbu-bumbu lain. Makanya, aku langsung menolak mereka saat itu juga."
{untung saya belum nembak}

Luar biasa, wow!! Benar-benar sebuah filosofi yang menarik tentang analogi coklat dengan cinta. Paling nggak, saya bisa belajar dari filosofi tersebut untuk bisa memberikan cinta yang murni, tanpa banyak dibumbui oleh hal-hal yang bisa merusak rasa cinta itu sndiri, buat pasangan saya nanti . . . .

Senin, 12 September 2011

ABC~an

Pulsa saya udah semakin kritis, udah gitu masa aktifnya pun hampir habis. so, mau nggak mau saya mesthi isi pulsa si warung yang jaraknya nggak jauh dari rumah saya (cuman 1 kilometer). Begitu sampai didepan warung, saya merasa tertarik melihat lima anak kecil, 3 cowok & 2 cewek yang sedang memainkan sebuah permainan sederhana. Yang biasa disebut dengan 'ABC-an'.

Konsep permainannya nggak begitu ribet. Sekumpulan anak kecil itu duduk membentuk lingkaran. Lalu mereka menyodorkan jari-jemari mereka secara bersamaan, kearah tengah lingkaran. Dan jumlah jari yang disodorkan, sesuai selera terserah pada masing-masing anak. Kemudian jumlah jari keseluruhan anak tersebut dihitung sesuai dengan urutan abjad. Abjad hasil perhitungan dari jumlah jari yang disodorkan, akan dijadikan abjad awal dari nama sbuah benda yang telah disepakati bersama. kebetulan saat itu, sekumpulan anak kecil tersebut sepakat untuk menyebutkan nama buah. Dan hasil perhitungan jari jemari mereka menunjukkan huuf 'H' sebagai abjad awal dari nama buah yang mesthi disebutkan oleh masing-masing anak.


Anak-anak kecil yang mungkin masih kelas 2 atau 3 SD itu, terlihat berfikir keras untuk bisa menyebutkan nama buah yang diawali dengan huruf 'H'. Dan tiba-tiba, salah satu anak laki-laki yang badannya lebih besar dari yang lainnya, langsung menjawab "Buah Hanggur!" dengan tampangnya yang polos. Mendengar jawaban itu, anak-anak yang lain juga nggak mau kalah. "Hapel" jawab anak perempuan yang rambutnya keriting. Terus ada juga yang menjawab "buah Hepaya" Dan anak perempuan yang satunya lagi menjawab "buah Heruk!". Emang sich, waktu dnger jawaban polos anak-anak kecil tersebut, saya nggak bisa nahan buat ketawa. Tapi pas saya pikir-pikir lagi, sebnernya anak-anak kecil ini kratif juga ya? Mereka berusaha untuk berfikir out of the box agar bisa menjawab pertanyaan yang sedang mereka hadapi. Sekarang giliran anak laki-laki yang paling kecil diantara mereka untuk menjawab. Dia masih terlihat berfikir keras untuk menemukan nama buah yang diawali dengan huruf 'H'. Sambil matanya memandang ke arah sekeliling, seolah ingin menemukan jawaban yang dia inginkan.


#Tak lama kemudian, didepan sekelompok anak yang sedang bermain ABC-an itu, lewat seorang cewek dengan pakaian yang seksi. Dan entah apa yang ada dalam pikiran anak kecil tersebut, hingga dengan lantang dia menjawab "BUAH HADA!" sambil memperlihatkan cengiran polosnya, dan matanya tertuju kearah cewek seksi yang sedang lewat di hadapannya!

@Mungkin maksud jawaban ansk yang paling kecil itu, "buah LADA" kali ya???

Jumat, 29 Juli 2011

Ibarat Akar dan Batang Pohon

Sore-sore pak Didik sedang sibuk ngurusin tanaman yang ada di halaman rumahnya. Apalagi semenjak dia pensiun, saya lihat hampir tiap sore pak Didik ngerawat tanaman yang lumayan banyak menghiasi pekarangan rumahnya itu.

Jum'at sore begini, tadinya saya mau jogging ke Cindelaras. Tapi niat itu saya batalin saat saya ngeliat pak Didik. Saya malah kepikiran buat bantuin pak Didik yang lagi ngurusin tanamannya. Maklum jiwa sosial saya kan tinggi Bukannya apa-apa, soalnya tetangga saya ini punya anak perempuan yang cantik' namanya Linda. Siapa tau aja kalo saya ngebantuin, pak Didik bakalan khilaf dan ngejodohin saya dengan anak gadisnya yang satu ini.
"lagi sibuk ya, pak? Saya boleh bantuin?"
"eh, kamu Riz. Iya nich' biasalah namanya juga pensiunan. Daripada plonga-plongo nggak ngapa-ngapain, mendingan saya ngurusin tanaman-tanaman ini. Silahkan, kalo kamu mau bantuin. Kebetulan saya baru beli pot sebesar lemari yang belum dipindahin"
*Busyeet, kaya'nya saya bakalan di suruh mindahin pot yang segedhe lemari nich*
"emang pak Didik seneng melihara tanaman, ya?" tanyaku ke pak Didik.
"oh iya,, dari muda dulu memang saya hobinya memelihara tanaman. Karna bapak saya dulu juga hobinya memelihara tanaman, jadinya saya ketularan. Kalo nak Rizky suka juga nggak, sama tanaman?".
"lumayan suka, , , tapi saya sukanya yang sejenis bunga, pak. Mulai dari bunga Mawar, bunga Desa Anggrek, sampe bunga entut-entutan saya juga suka {hallaah}"

"Riz, tolonk donk. Bantuin saya pindahin tanaman ini ke pot yang lebih besar sebelah sana!" kata pak Didik, sambil menunjuk ke arah pot tanaman yang terbuat dari tanah liat yang terlihat masih kosong.
"ya, pak"
"tapi hati-hati ya, memindahkannya. Jangan sampe akarnya pada rusak. Soalnya ini salah satu tanaman kesukaan saya" pak Didik mewanti-wanti saya supaya berhati-hati dalam memindahkan tanamannya.

Saya dan pak Didik pun memindahkan tanaman miliknya dari pot asalnya, ke pot kosong yang berukuran agak besar. Setelah itu, pak Didik menambahkan tanah dan pupuk ke pot yang telah diisi tanaman tersebut.
"kamu tahu nggak, bahwa kebanyakan tanaman itu mempunyai akar yang sama panjang dengan batangnya?".
"masa' sich pak? Berarti, pohon kelapa atau beringin itu, akarnya panjang juga donk??"
"oh' iya. . .! Semakin tinggi atau panjang batang pohonnya, maka akarnya pun akan semakin panjang. Dan itu sebenarnya berlaku juga dalam kehidupan manusia".

"maksud bapak, kalo akar kita makin panjang, maka batang kita akan semakin panjang juga, ya??"
*o'ONnya kumat*

"maksudnya gini, Riz. Kalo hal itu kita analogikan, maka batang kita pohon itu bisa di ibaratkan dengan derajat kita dalam kehidupan ini. Dan akar pohon adalah ilmu yang kita miliki. Itu artinya, semakin tinggi atau banyak ilmu yang kita miliki, maka akan semakin tinggi pula derajat hidup kita" kata pak Didik yang menerangkan tentang analogi ilmu bila di ibaratkan dengan akar dari kehidupan.

"oh iya, pak. Eniwei linda kemana ya? Koq dari tadi kaya'nya nggak kelihatan!" tanyaku tentang Linda, anaknya pak Didik yang cantik itu.
"ooh, Linda sudah dijemput pacarnya tadi. Katanya sich mau ke Gramed**."

Dan jawaban pak Didik itu jelas memupuskan harapan saya untuk bisa PDKT dengan Linda! :'(

Selasa, 26 Juli 2011

Sarapan yang terAniaya

Pagi itu, jam pelajaran pertama adalah Bahasa Inggris. Seperti biasanya bu Ayu' mengajar dengan metode khas beliau, yaitu dengan diiringi cerita-cerita ringan yang tetap mengarah pada pokok materi pelajaran yang sedang diterangkan.
Setelah beberapa jam berlalu, namun belum juga terdengar bunyi bel yang menandakan jam istirahat. Sementara jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit.
"Riz,, Riz,, Riz!!" keseriusan saya yang sedang dengerin cerita dari bu Ayu' terbuyarkan oleh sebuah calling dari arah belakang, yang tak lain adalah si Justin Bibir alias kamil.
"napha-napha?!?"
"ke kantin yu', gue laper banget nich belum sarapan!"
"ah' nanggung, paling lima belas menit lagi juga istirahat"
"kalo disuruh nunggu lima belas menit lagi, bisa-bisa gue lebih kurus dari loe!"
"Sial loe!! mau ngajakin ke kantin atau mau ngajakin ribut nich?"
"ya udah 'elo ganteng dech, makanya temenin gue ke kantin!!"
"iya-iya,, buruan loe minta ijin sana!".
Daripada nich anak rewel melulu, dan takutnya temen di bangku seberang mikir yang enggak-enggak. Coz dari tadi tuh bocah ngeliatin melulu. Jadinya saya iya'in aja. Karna letak kantin yang searah dengan toilet. So, si Justin ijinnya sama bu Ayu' mau ke toilet. Nggak mungkin kan, ngomong terus terang kalo kita mau ke kantin. ntar malah-malah bu Ayu'ikutan ke kantin, kan gawat tuch soalnya nggak ada yang buat bayarin.

Satu menit, dua menit, tiga menit. akhirnya mateng juga dua mangkok mie rebus yang kita pesen. Sengaja pesennya mie rebus, biar nggak terlalu lama nungguinnya. Soalnya kalo mau pesen mie ayam sekarang, bisa-bisa besok pagi baru jadi. 'kan agak lama juga tuch! Dan kita rada kurang sabar nungguinnya. Gimana tidak, kalo setelah diselidiki ternyata yang punya kantin baru mengejar-ngejar ayam milik penduduk sekitar yang sedang bengong. Kalo misalnya udah dapet, baru kemudian disembelih, dicabutin bulunya satu-satu, dibersihkan lagi, direbus dan dipotong kecil-kecil untuk mie ayam. Alangkah kasihannya nasib si pembeli!

Pernah sewaktu kelas satu, saya dalam posisi lapar yang sudah tak tertahankan. Belum sarapan. Karna pelajaran sedang kosong, saya berinisiatif untuk ke kantin. Mau makan diluar, tapi situasi kurang memungkinkan, coz nggak bisa mengontrol kelas yang siapa tau gurunya tiba-tiba dateng. Jadi terpikirlah kantin yang letaknya dibelakang bangunan kelas saya. Maka sayapun pesen mie ayam disitu. Tapi ditunggu-tunggu ternyata lama sekali. Setengah jam lebih belum jadi juga. Sampai guru kimia yang galaknya kayak trio macan itu nongol dari arah kantor. Langsung aja saya kabur meninggalkan kantin lewat pintu samping, truz belagak dari toilet dan masuk ke kelas sambil menunjukkan expresi muka yang menyerupai closed. Namun ketika pelajaran sedang berlangsung, datang seorang gadis yang ternyata adalah anak dari ibu kantin mengetuk pintu kelas untuk mengantarkan mie ayam pesanan saya. Jelas saja saya kaget dan jadi bahan ketawaan makhluk-makhluk penghuni 'X~ B'.


*Dan baru aja kami menyantap beberapa sendok {emangnya kita kuda lumping}. Maksudnya beberapa suap.
#Duerr#
Tiba-tiba kami terkagetkan dengan suara gebrakan meja oleh bu Ayu'.
"Bagus ya. . . ! Bilangnya mau ke toilet, tapi malah nyasar ke kantin!!" kata bu Ayu' sembari mengacungkan jari telunjuknya dan diiringi juga oleh geleng-geleng kepalanya (hallaahh, dikira lagi dugem apa).

"iya, ini baru dari toilet koq bu'. Cuman mampir sebentar" ngelez Justin
*padahal ke toilet buat cuci tangan sebelum makan* Tapi apapun alasannya. minumnya teh botol sosro Bu Ayu' tetap memberikan hukuman. Hukumannya adalah, menghabiskan mie yang sedang kami makan. Enak banget ya, hukumannya?? ENAK GUNDULMU! Tau nggak, disuruh ngehabisinnya dimana? DI DALAM TOILET. Kalo di toilet guru sich masih mending. Tapi ini di toilet yang disediain khusus buat murid cowok! Hedeuh, baunya aja. . . bikin saya nggak berselera untuk hidup. Namun, yang mengherankan saya. Koq si Justin nggak ngerasa jijik sedikitpun ya. . .? Atau. . . jangan-jangan, nich anak emang hobinya makan di toilet??

"ah, ibu kantin gimana sich?" kata Justin yang keliatannya agak kesel.
"iya tuch. Masa' bu Ayu' dateng nggak bilang-bilang" sambung saya dengan nada pelan. Soalnya takut kedengeran sama bu Ayu' yang sedari tadi ngawasin kita dengan senyum penuh kepuasan diatas penderitaan kami saya.
"bukan gitu, tapi ini loch' ngasih kuah mie~nya kurang!"
"haah" saya cuman bisa melongo ngedengernya,
"loe beneran, kuahnya masih kurang??" tanyaku yang saat itu pengen banget ngebejek-bejek mukanya si Justin.
"ho'oh" jawab Justin singkat dan penuh harapan.
"coba loe liatin, ini apa?"
"closed. . ." jawab Justin kebingungan.
"Kalo yang ini apa'an?" lanjut saya sambil menunjuk kearah air yang berada diclosed.
"air. . . truz knapa?" balas Justin yang tambah bingung.
"naah, loe sendokin tuch air closed kalo kuahnya masih kurang!!"
. . .

Teet, teet, teeett. . . .
Kemudian, tanda bel istirahat berbunyi. Dan lumayan banyak juga murid yang berbondong-bondong ke toilet. Saat anak-anak yang ke toilet tersebut melihat kami sedang asyik menikmati rasanya makan mie di dalam toilet. Merekapun mengeluarkan ponsel masing-masing dan mengambil gambar kami berdua. Waduh! Serasa jadi artis mendadak. Sejak kejadian itu, kami jadi terkenal di kalangan SMA 3. Banyak guru dan siswa-siswi yang sering minta foto bareng dan tanda tangan segala.

Cerita Tentang Burung

Jujur aku seorang pecinta kebebasan ....eits tunggu kebebasan ku kebebasan yang bertanggung jawab. Pecinta kebebasan .... senang jika tersesat, merasa hidup adalah petualangan dibandingkan dengan pertandingan.
Pertandingan membuat mu berkompetisi.... bukannya jelek sih, tapi dalam pertandingan terkadang "proses" dilupakan demi menjadi juara. Tetapi terus-menerus berada dalam proses pun tidak baik, karena hidup tidak akan menunggu mu .....

dulu aku mengibaratkan diri seperti layangan, biarpun senang terbang dibawa angin tetap ingin "dipegang" tapi tidak kencang karena itu saat mencari pasangan analogi ku selalu ingin mencari pemain layangan handal. Aku pikir aku sudah menemukannya tapi aku pikir aku salah...tapi entahlah.

Akhir-akhir ini aku merasa seperti burung.... analogi baru lagi untuk menggambarkan diri.
maka cerita tentang burung ini ...cerita tentang aku dan mungkin kamu?

Burung .... Tuhan menciptakannya dengan sayap untuk terbang, menjelajahi awan, bermain di langit luas. Tidak ada yang bisa mengikatnya ...tapi ...Burung, selalu ingat secara sadar tidak sadar .. sejauh mana pun dia menjelajah terbang, selalu ingat untuk pulang. Burung selalu kembali ke sarangnya ...pada akhirnya. itu aku... apakah itu kamu juga?

maka, saat aku hidup dengan bebas ingatlah... aku pasti kembali, apakah kamu bersedia menjadi sarang bagi burung ku? *pertanyaan yang entah ditujukan untuk siapa*

Relationships are like birds, if you grip tight they die, if you hold loosely they fly but if you hold with care, love & respect they remain with you forever.

I always wonder why birds choose to stay in the same place when they can fly anywhere on the Earth. Then I ask myself the same question.


yup... uneg-uneg menjadi burung ini meluap-luap, seseorang telah berhasil membuatku merasa aku telah menemukan pemain layangan ku, seseorang yang juga membuat ku merasa aku harus terbang seperti burung.... apakah itu aku? atau kamu? atau siapa pun....
ini cerita tentang burung.

Selasa, 14 Juni 2011

Surat Untuk Bunda (repost)

Pagi itu cuaca tak secerah biasanya. Langit muram menyambut Minggu pagi yang seharusnya cerah itu. Hujan turun membasahi trotoar yang seharusnya dilewati para muda-mudi yang sedang berlari pagi atau para lansia yang berjalan santai untuk meregangkan otot-otot mereka yang kaku. Pagi itu benar-benar sepi. Kendaraan tak terlihat berlalu-lalang, burung-burung bergelung di sangkarnya, hanya sesekali terdengar suara katak. Semua makhluk seakan malas pagi itu, termasuk di sebuah rumah di Jl. Sadewa. “SAYUUR!! SAYUUUUR!” sebuah teriakan dari Bang Miat sang penjual sayur memecah kesunyian pagi itu.
“Di, tolong belikan Bunda cabai sepuluh ribu di Bang Miat! Pakai uang kamu dulu, ya!” pinta Bunda pada Adi.
“Pakai uangku, ini aja tinggal ceban buat nanti main badminton, Bun!” sahut Adi yang sedang asyik bermain game Call Of Duty 4 di komputernya.
“Besok Bunda ganti, deh…ayo cepat, nanti Bang Miat-nya keburu kabur!” lanjut Bunda.
“Ok, ok, tapi tolong jangan dimatiin ya komputernya!” jawab Adi setuju sambil mencari uang sepuluh ribuan yang disembunyikannya di bawah monitor komputer. Sedetik kemudian Adi langsung mengambil payung dan bergegas mengejar Bang Miat untuk membeli cabai. Dengan sandal jepit kesayangannya ia tapaki jalan dalam pengejaran tukang sayur yang enerjik itu.


“Ah, dasar Bunda, orang libur kok masih disuruh-suruh! Kemarin pagi orang mau main futsal malah disuruh jemurin cucian seminggu, sorenya disuruh nyapu, ngepel, terus nyupir (nyuci piring), eh…sekarang orang lagi asik main computer malah disuruh beli cabe! Mending kalo pake duitnya, pake duitku pula! Aduuuh, Bunda maunya apa, sih sebenernya? Udah kalo cerita ke tetangga suka nggak nganggep hasil pekerjaanku, lagi!” gumam Adi sambil berjalan. Sesekali ia bersusah payah membetulkan payung tuanya yang menggulung saat tertiup angin.
Adi sebenarnya adalah seorang anak yang cerdas dan kritis. Namun, dia memiliki sifat malas dan suka memendam perasaan di dalam hati. Semua masalah yang dihadapinya tidak pernah diceritakan ke orang lain. Karena itu, masalah-masalah yang dimilikinya semakin hari semakin banyak dan membebani pikirannya. Dengan semua masalah yang membebani serta tersulut masalah dengan Bunda tempo hari yang menjadi klimaks, ia menjadi terlampau kesal kepada Bunda.
Di dapur, Bunda sedang asyik membuat nasi goreng special kesukaan keluarganya. Dengan penuh ketelatenan, dihiasnya nasi itu dengan begitu cantik dan terkesan mewah. “Wah, ada koki restoran kesini tadi, Bun?” tanya Ayah yang tiba-tiba muncul dari pintu dapur memuji pekerjaan Bunda.
“Ah, Ayah ini paling jagonya memuji, deh! Sudah, tunggu saja di meja makan, sebentar lagi siap, kok!” kata Bunda ramah. Ayah yang memang sudah keroncongan segera ngacir ke meja makan sambil berharap bisa makan banyak. Bunda yang telah selesai menghias nasi goring pun segera membawa masakannya ke meja makan. Walau lapar, Ayah dan Bunda masih menunggu Adi kembali dari membeli cabai untuk makan bersama. Mereka tidak ingin melewatkan hangatnya kebersamaan dalam suasana hujan kali itu.


Tok…Tok! “Assalamu’alaikum!” teriak Adi yang baru kembali dari membeli cabai. “Ini Bun, cabenya! Tadi udah aku pilihin yang seger-seger” ujar Adi sambil memberikan bungkusan koran berisi cabai pada Bunda di meja makan. “Wah, ada nasgor, nih! Aku langsung makan ya, Bun!” kata Adi semangat setelah melihat nasi goreng special buatan Bunda.
“Tunggu, kita berdo’a dulu, ya, Di!” kata Ayah sambil menepuk tangan Adi yang hendak mengambil nasi. Bunda yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum sambil menaruh bungkusan cabai tadi di lemari es.
Setelah berdo’a bersama, keluarga itu pun makan bersama dengan diselingi obrolan-obrolan ringan dan hangat. Senyuman terlihat terpancar dari wajah Ayah dan Bunda, namun tidak di wajah Adi. Adi justru cemberut tidak senang dan menatap sinis ke arah Bunda.


Setelah makan, Ayah lantas berangkat ke bengkelnya meninggalkan Adi dan Bunda. Ayah Adi memang seorang wirausahawan yang cukup perhatian pada karyawannya serta rajin. Walau hari Minggu beliau tetap pergi ke bengkel untuk mengawasi pekerjaan para karyawannya. Beliau juga selalu membimbing karyawannya untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang terbaik. Benar-benar contoh wirausahawan teladan.
Sementara Bunda sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri acara pernikahan tetangga, Adi dengan santai mendengarkan mp3 player sambil menikmati sebungkus keripik singkong. Di atas kursi goyang rotan Adi menggoyang-goyangkan kepala dan tangannya seirama dengan alunan lagu. Sesekali ia juga menyanyikan sepotong syair lagu yang ia ketahui.
“Di, tolong nanti kamu cuci piring, ya! Gara-gara tadi kita makan besar, cucian piring jadi menggunung. Tolong, ya!” pinta Bunda sambil tersenyum pada Adi. Sebenarna Adi tidak mau, namun belum sempat Adi protes Bunda sudah keluar pintu dan pergi dengan kecepatan penuh.


“Wah, Bunda parah bener! Semua pekerjaan rumah aku yang ngerjain. Memangnya aku pembantu! Kalo gini bisa rugi aku, tiap ngerjain apa-apa aku nggak pernah dapet imbalan apapun dari Bunda. Padahal aku berhak dapat imbalan. Ya, minimal bonus uang jajan, kek!” gerutu Adi. Bisikan-bisikan hawa nafsu mengelilingi pikirannya saat itu. Ia tidak dapat menahan emosi. Diambilnya secarik kertas dan bolpoin. Ditulisnya sebuah surat yang isinya sebagai berikut:

Kepada: Bunda yang aku sayangi

Bunda, selama ini Bunda sering menyuruhku melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang sebenarnya enggan kulakukan. Namun, belum pernah Bunda memberi sebuah penghargaan atas apa yang kulakukan.
Setelah kupikir-pikir, bila begini terus aku akan dirugikan oleh Bunda. Maka dari itu aku tulis surat ini. Ini adalah surat permintaan atau lebih tepatnya tuntutanku kepada Bunda. Mulai sekarang, aku akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah hanya apabila Bunda memberi imbalan yang kuinginkan.
Berikut ini adalah daftar imbalan-imbalan (tarif) untuk setiap jenis pekerjaan rumah:

*
Biaya untuk menyapu lantai: Rp 3.000,-
*
Biaya untuk mengepel lantai: Rp 3.000,-
*
Paket sapu dan pel: Rp 5.000,-
*
Biaya untuk nyupir: Rp 2.000,-
*
Biaya nyiram tanaman: Rp 1.500,-
*
Biaya pekerjaan lainnya: Rp 2.500,-

Demikian surat ini aku ajukan untuk Bunda. Aku sudah membuat tarif yang murah untuk Bunda penuhi. Aku harap Bunda dapat membayar sesuai tarif atau dengan barang seharga yang telah ditentukan. Terima kasih atas perhatian Bunda, tolong dahulukan KEWAJIBAN daripada HAK!
Anak/pesuruhmu,
TTD
Adi


Surat itu lantas dimasukkannya dalam sebuah amplop putih kecil. Diambilnya segulung isolasi dari dalam laci meja belajarnya. Kemudian dihampirinya meja kaca rias di dalam kamar orangtuanya. Ditempelnya amplop berisi surat itu di tengah kaca, dan segera pergi meninggalkan rumah untuk bermain kelereng bersama teman-temannya karena hujan telah berhenti.
Satu jam kemudian Bunda pulang. Karena rumah terlihat kosong, Bunda berkeliling untuk mencari Adi. Setelah mencari di sekeliling rumah, bukan Adi yang ditemukannya melainkan sebuah amplop berisi surat tadi.
Bunda lantas duduk di atas tempat tidur untuk membacanya. Linangan air mata mengalir membasahi pipinya yang merah. Melunturkan riasan wajahnya yang tipis minimalis. Namun perlahan Bunda mencoba tabah menghadapinya. Beliau lantas menarik nafas panjang untuk mengkondisikan mentalnya. “Astaghfirullahaladzim,” hanya kata itu yang dapat keluar dari mulutnya. Senyuman tiba-tiba terlihat di wajahnya.
Bunda lantas mengambil secarik kertas dari buku catatan pengeluarannya dan sebuah bolpoin dari atas meja telepon. Ditulisnya sebuah surat balasan untuk Adi di atas tempat tidurnya. Diletakkannya surat itu di atas meja makan. Di samping surat itu juga tersedia semangkuk sayur bayam untuk Adi makan siang itu dan ditutupinya dengan tudung saji.
Setelah adzan dzuhur berkumandang, Adi pulang dan segera memburu meja makan untuk mengisi perutnya yang lapar. Ditemukannya semangkuk sayur bayam dan sepucuk surat balasan yang bertuliskan “Dari Bunda” di samping mangkuk sayur tersebut. Dibukanya perlahan-lahan surat itu dengan harapan mendapat respon yang diinginkan dari Bunda. Namun, yang ditemukannya adalah surat yang bertuliskan,

Untuk Adi tercinta

Setelah membaca surat dari Adi, Bunda menyadari kesalahan Bunda. Bunda baru sadar kalau Adi ternyata merasa keberatan dengan semua permintaan sederhana Bunda. Bunda juga sadar kalau Bunda belum cukup memberi apresiasi atau timbale balik atas semua yang Adi lakukan.
Namun, Bunda hanya ingin Adi tahu bagaimana apresiasi atau yang Adi katakana sebagai tariff atas apa yang Bunda lakukan selama ini. Bunda yakin Adi tidak akan merasa keberatan dengan tarif ini. Berikut adalah rincian tarif tersebut:

*
Biaya untuk mengandungmu selama 9 bulan: GRATIS
*
Biaya untuk rasa sakit saat melahirkanmu: GRATIS
*
Biaya untuk menyusuimu selama 2,5 tahun: GRATIS
*
Biaya untuk keringat dan air mata yang menetes selama kau tumbuh: GRATIS
*
Biaya untuk mengajarkan Islam padamu: GRATIS
*
Biaya untuk merawatmu saat kau sakit: GRATIS
*
Biaya

Intinya, semua itu telah dengan ikhlas Bunda lakukan untukmu. Sebenarnya tak ada satu hal pun yang bunda pinta darimu kecuali keikhlasanmu. Tak sekalipun Bunda mengharapkan kau tumbuh menjadi orang yang sukses dan mengharapkan materi berlimpah. Tak sekalipun Bunda berharap kau menjadi juara olimpiade sains dunia dan mengharumkan nama keuarga. Tak sekalipun Bunda harapkan kau menjadi presiden dan memperbaiki negara yang carut-marut ini. Namun, yang Bunda inginkan hanya keihlasanmu berbakti pada orangtua.
Sekian surat balasn ini…



Belum selesai Adi membaca surat itu, air mata telah deras mengalir membanjiri wajahnya. Semua bulu kuduknya merinding membaca surat itu. Tangannya gemetar memegang secarik kertas ringan itu. Kakinya terasa lemas, lantai yang dingin semakin membuat darahnya seakan membeku dan bibirnya bergetar. Adi menangis menyadari betapa kejam dan tidak bermoral perbuatannya.
Dibayangkannya semua kebaikan Bunda padanya. Adi tertunduk membayangkan rasa sakit yang Bunda alami saat melahirkannya. Belaian halus, kecupan hangat, nasihat-nasihat, serta senyum tipis yang selalu menggelayut di wajah Bunda terproyeksi dengan sangat jelas dalam kepalanya. Ia ingat ketika Bunda panik dan bergegas menolongnya saat ia terjatuh dari sepeda dahulu. “Ya Allah, hamba telah durhaka. Mungkin hamba telah membuat Bunda menangis karena perbuatan dungu yang hamba lakukan. Ya Allah, ampunilah hambamu ini!” ujar Adi sambil meletakkan surat Bunda di atas meja makan.
Adi segera berlari memburu pintu kamar Bunda. Dibukanya pintu itu dan ditemuinya Bunda yang sedang tidur. “Bunda, maafkan Adi, ya! Adi berjanji tidak akan mengulangi hal bodoh ini. Adi sadar jasa Bunda takkan dapan adi balas, meski lautan emas sebagai gantinya. Bunda, maafkan Adi, ya!” bisik Adi sambil memeluk Bundanya. Setelah itu, ia langsung menutupi tubuh Bunda dengan selimut sambil tersenyum.
Adi segera berjalan keluar dari kamar itu untuk segera melaksanakan shalat dzuhur. Ia berniat meminta maaf pada Bunda setelah beliau bangun nanti. Ditutupnya pintu kamar dengan perlahan agar Bunda tidak terbangun karenanya. Tapi, tanpa diketahuinya Bunda mendengar semua yang dikatakannya tadi. Bunda pun tersenyum dan melanjutkan tidurnya.

☺☺☺
Ibu sudah seharusnya menjadi orang yang paling kita hormati. Tanpanya kita tak akan pernah terlahir ke dunia. Bahkan, sebuah perkataan menyatakan bahwa surga itu di telapak kaki ibu. Apapun yang orangtua kita perintahkan untuk kita lakukan, lakukanlah! Sesungguhnya pasti ada kebaikan tersirat didalamnya.

Sabtu, 07 Mei 2011

Padamu 'ku Merindu

Kumenatap dalam gelap. . .
Tiada yang bisa kulihat. . .
Selain hanya wajahmu, yang cantik. . .
Esok ataukah nanti. . .
Temani setyap tidurku. . .
Lindungi aku dari se_pinya malam. . .

*Kau tempatku mencinta. . .
Kau beriku sgalanya. . .
Jadikan aku selaamanya, cintamu yang slalu bahagia. . .
*Ma'afkanku yang telah. . ,
Membuatmu kecewa. . .
Saat kau tak disampingku, , .
Dalam sepi aku, merindu_kan kamu. . . .

Rabu, 06 April 2011

Do'aMu Bikin Down Imanku

Ini cerpense (cerita pendek sekali) saya berikutnya. . . .

Sebentar lagi ujian nasional, anak-anak menjadi rajin kemasjid yang letaknya di sebelah sekolah pada waktu istirahat. Memang, akhir-akhir ini anak-anak lagi pada demam ke masjid. Apalagi kalo udah waktunya shalat dzuhur. Anak-anak kelas 3 pasti memenuhi sof (baris) depan. Padahal biasanya, kalo disuruh shalat aja mesthi kejar-kejaran dulu dengan sang guru. Malahan, ada yang ngajakin main petak umpet lagi. Karna saya yang tadi datangnya agak telat (gara-gara si Justin ngajakin makan dulu dikantin, soalnya kalo waktu shalat dzuhur banyak cewe dikantin) jadinya ketinggalan di rakaat pertama dech. Dan ketika semuanya sudah selesai shalat (kecuali saya & Justin yang harus membayar ketertinggalan satu rakaat). Saat saya sedang sujud, tiba-tiba terdengar suara temen saya disebelah yang waktu itu sedang berdo'a. Tau nggak bunyi do'anya gimana? Begini nich "ya, Allah. . . Semoga ketika menghadapi ujian nasional nanti, pengawasnya tidak ada yang galax. . . kalo bisa yang orangnya culun!" (bukannya minta diberikan soal yang mudah-mudah, tapi malah minta pengawasnya yang nggak galak + culun). Kontan saja, saya yang tadinya lagi khusyu'-khusyu'nya shalat, iman saya jadi down karna mendengar do'a yang terlalu polos itu.