"mas... minta pacarnya, mas! kasihanilah mas... saya belum pacaran semenjak dilahirkan mas *_)"
Tapi setelah saya pikir-pikir, sebenernya saya ini kurang apa sich?? Kurang ganteng iya, kurang pinter juga iya, kurang tajir sich' apa lagi!
Dan emang bener, kalo jodoh nggak akan kemana. Ibarat pepatah takkan lari gunung dikejar. Akhirnya, ada juga
Kebetulan dia satu profesi dengan saya. Karna kami masih dalam lingkup area supervisor yang sama, mengakibatkan seringnya untuk bertemu. Hingga pada akhirnya terjadilah seperti yang dikatakan dalam pepatah nenek moyang 'Witing Tresno Jalaran Saka Kulino'.
Malem mingguan pertama, kami jalan-jalan ke Mall. Tadinya saya mau ngajakin nonton, tapi ternyata dia ngga' suka nonton bioskop, katanya entar bikin mabok...? (saya juga heran. Kog ada ya, orang mabok gara-gara nonton bioskop??) tapi ya sudahlah, saya pun ngga' mau memaksa. Dan akhirnya kami pun makan di FoodCourt mall tersebut.
Nah' ini dia awal yang bikin segalanya berakhir, ternyata pacar saya itu kalo makan kuat banget. Baru aja makan burger ditambah kentang goreng, ngga' lama kemudian dia bilang laper lagi dan pengen nasi goreng. Emang cara makanyya sich' pelan, Ibaratnya mungkin dia menerapkan istilah 'alon-alon asal kelakon' tapi ngga' berenti-berenti! Begitu juga dengan minumnya, habis minum jus alpukat dia mesen es campur, habis itu pesen lagi lemon tea. Saya sempat berfikir, apa jangan-jangan pacar saya ini masih keturunan onta?
Awalnya saya pikir, cinta itu memang butuh pengorbanan. Jadi apapun keinginan dia pasti saya turutin. Walaupun mesti bikin kantong saya meradang. Tapi setelah beberapa minggu jalan sama dia, akhirnya saya ngga' kuat menuruti hasrat makannya yang begitu kuat. Gaji bulanan saya habis cuman dalam waktu 3 minggu doang, padahal selain makan enak malem mingguan sama dia, di kost-an saya cuman makan indomie goreng, kadang-kadang makan gorengan doank. Tapi tetp aja duit saya habis melulu gara-gara tiap malem minggu diajakin makan bareng pacar baru saya itu ke mall. Akhirnya saya beraniin diri bilang putus sama pacar saya itu, tadinya saya juga bingung mesti pake alesan apa buat mutusin dia. Saya sebalumnya berusaha supaya dia yang mutusin duluan, dengan mengubah penampilan saya menjadi acak-acakan. Karna dari kabar yang saya dengar, cewek sukanya sama cowok yang rapi (kayak Rapi ahmad) dan paling benci sama cowok yang penampilannya berantakan. Namun cara tersebut gagal. Dan salah seorang teman saya menanggapi hal tersebut begini "ya iyalah dia nggak mutusin kamu. Lha wong kamu emang udah berantakan gitu dari dulu!" Saya ngga' tau apa maksud perkataan temen saya yang satu ini?
Kemudian saya dapat ide, setelah nggak sengaja baca koran yang didalamnya membahas seputar ramalan perjodohan, maka pas mutusin dia saya ngomong gini
"De'... Kayaknya kita nggak bisa nerusin hubungan ini. Karna menurut pensehat spiritual mas, ternyata weton kita nggak cocok. Makanya kalo kita terusin hubungan ini, bisa membahayakan kita berdua" (maksudku sih' bisa membahayakan kantong dan gaji bulananku!). Dia malaah nanya kayak gini
"emang mas, punya penasehat spiritual, ya? Namanya siapa?"
"ki Joko Koplo"
"pasti itu adeknya ki Joko Bodho ya, mas?"
"Bukan! Dia itu kakaknya. Kalo adeknya ki Joko Jomblo"
"Trus. kalo anaknya siapa, mas?"
"anaknya kan' kamu??"
"Ih' mas Tiar jahat, ya udah deh' kalo kamu pengennya kita putus. Tapi kita masih tetep temenan khan, mas? Kamu masih mau kan' aku ajakin makan bareng walaupun kita udah nggak pacaran lagi???". Mendengar pertanyaan tersebut, saya langsung pingsan diiringi kejang-kejang.
*Dan gara-gara hal ini saya jadi punya pepatah "Witing Tekor Jalaran saka Kuliner"