Rabu, 16 Januari 2013

Witing Tresna Jalaran Saka Kulino

          Setelah sekian lama ngejomblo, akhirnya saya mendapatkan anugrah berupa pacar yang mau menerima saya apa adanya. Pertemuan kami cukup romantis. Waktu itu sebuah rambu lalu lintas di Tugu Muda menunjukkan lampu merah. Ketika itu juga saya menghampiri sepasang pengendara motor. Sambil memengadahkan tangan dan sedikit membungkukkan badan, saya bilang gini
       "mas... minta pacarnya, mas! kasihanilah mas... saya belum pacaran semenjak dilahirkan mas *_)"
     Tapi setelah saya pikir-pikir, sebenernya saya ini kurang apa sich?? Kurang ganteng iya, kurang pinter juga iya, kurang tajir sich' apa lagi!
     Dan emang bener, kalo jodoh nggak akan kemana. Ibarat pepatah takkan lari gunung dikejar. Akhirnya, ada juga
gunungcewek yang mau dengan saya. Dia adalah seorang putri kelahiran Yogyakarta. Dan kata putri, darah Arabian mengalir pada tubuhnya. Cewek saya ini orangnya manis, kulitnya kecoklatan sawo matang-lah orang bilang, sebenernya sich' agak kematengan!! Tapi, btw dia manis koq.
     Kebetulan dia satu profesi dengan saya. Karna kami masih dalam lingkup area supervisor yang sama, mengakibatkan seringnya untuk bertemu. Hingga pada akhirnya terjadilah seperti yang dikatakan dalam pepatah nenek moyang 'Witing Tresno Jalaran Saka Kulino'.

       Malem mingguan pertama, kami jalan-jalan ke Mall. Tadinya saya mau ngajakin nonton, tapi ternyata dia ngga' suka nonton bioskop, katanya entar bikin mabok...? (saya juga heran. Kog ada ya, orang mabok gara-gara nonton bioskop??) tapi ya sudahlah, saya pun ngga' mau memaksa. Dan akhirnya kami pun makan di FoodCourt mall tersebut.
    Nah' ini dia awal yang bikin segalanya berakhir, ternyata pacar saya itu kalo makan kuat banget. Baru aja makan burger ditambah kentang goreng, ngga' lama kemudian dia bilang laper lagi dan pengen nasi goreng. Emang cara makanyya sich' pelan, Ibaratnya mungkin dia menerapkan istilah 'alon-alon asal kelakon' tapi ngga' berenti-berenti! Begitu juga dengan minumnya, habis minum jus alpukat dia mesen es campur, habis itu pesen lagi lemon tea. Saya sempat berfikir, apa jangan-jangan pacar saya ini masih keturunan onta?
    Awalnya saya pikir, cinta itu memang butuh pengorbanan. Jadi apapun keinginan dia pasti saya turutin. Walaupun mesti bikin kantong saya meradang. Tapi setelah beberapa minggu jalan sama dia, akhirnya saya ngga' kuat menuruti hasrat makannya yang begitu kuat. Gaji bulanan saya habis cuman dalam waktu 3 minggu doang, padahal selain makan enak malem mingguan sama dia, di kost-an saya cuman makan indomie goreng, kadang-kadang makan gorengan doank. Tapi tetp aja duit saya habis melulu gara-gara tiap malem minggu diajakin makan bareng pacar baru saya itu ke mall. Akhirnya saya beraniin diri bilang putus sama pacar saya itu, tadinya saya juga bingung mesti pake alesan apa buat mutusin dia. Saya sebalumnya berusaha supaya dia yang mutusin duluan, dengan mengubah penampilan saya menjadi acak-acakan. Karna dari kabar yang saya dengar, cewek sukanya sama cowok yang rapi (kayak Rapi ahmad) dan paling benci sama cowok yang penampilannya berantakan. Namun cara tersebut gagal. Dan salah seorang teman saya menanggapi hal tersebut begini "ya iyalah dia nggak mutusin kamu. Lha wong kamu emang udah berantakan gitu dari dulu!" Saya ngga' tau apa maksud perkataan temen saya yang satu ini?
     Kemudian saya dapat ide, setelah nggak sengaja baca koran yang didalamnya membahas seputar ramalan perjodohan, maka pas mutusin dia saya ngomong gini
    "De'... Kayaknya kita nggak bisa nerusin hubungan ini. Karna menurut pensehat spiritual mas, ternyata weton kita nggak cocok. Makanya kalo kita terusin hubungan ini, bisa membahayakan kita berdua" (maksudku sih' bisa membahayakan kantong dan gaji bulananku!). Dia malaah nanya kayak gini
    "emang mas, punya penasehat spiritual, ya? Namanya siapa?"
    "ki Joko Koplo"
    "pasti itu adeknya ki Joko Bodho ya, mas?"
    "Bukan! Dia itu kakaknya. Kalo adeknya ki Joko Jomblo"
    "Trus. kalo anaknya siapa, mas?"
    "anaknya kan' kamu??"
    "Ih' mas Tiar jahat, ya udah deh' kalo kamu pengennya kita putus. Tapi kita masih tetep temenan khan, mas? Kamu masih mau kan' aku ajakin makan bareng walaupun kita udah nggak pacaran lagi???". Mendengar pertanyaan tersebut, saya langsung pingsan diiringi kejang-kejang.

   *Dan gara-gara hal ini saya jadi punya pepatah "Witing Tekor Jalaran saka Kuliner"


Rabu, 09 Januari 2013

Ilmu adalah Cahaya

                  Ketika masih duduk di bangku SMA saya punya guru spiritual, namun dia nggak pernah menganggap saya sebagai muridnya. Dengan alasan, dia tidak mau punya murid ghaib! Dan kebetulan guru saya ini adalah kakak dari seorang cewek yang pernah khilaf menjadi pacar saya. Namanya Novia Indira Putri. Mba' Via adalah sesosok cewek yang mungkin akan memukau perhatian anda, bila anda seorang lelaki. Dia orangnya cakep, tinggi, badannya gedhe, item, berbulu lebatlangsing dan wajahnya cute-cute gimana,, gitu (cuman nggak se-cute adeknya). Selain itu dia juga smart. Bisa dilihat dari caranya ngajarin saya ilmu-ilmu yang sebelumnya tidak pernah saya mengerti. Misalnya seperti; ilmu kebal bacokan, santetlogika, ataupun ilmu gendhamanalisa dan analogi. Yang menurut saya penyampaiannya sangat easy understanding. Hingga pada suatu obrolan saya dengan mba' Via, dia nanya kayak gini ke saya "sekolah kamu gimana Dek? Susah-susah nggak pelajarannya?" memang sich pertanyaan itu terdengar mudah dan sepele. tapi untuk menjawabnyalah yang saya rasa berat banget. Jangankan buat memahami pelajaran. Berangkat ke sekolah aja hanya untuk menunggu tanda bel pulang dibunyikan. Akhirnya saya jawab pertanyaan mba' Via sekenanya.
          "Sebenernya susah-susah mudah sich Mba'. Misalnya pelajaran matematika. Ketika menghadapi soal dengan deretan angka yang panjangnya kayak orang ngantri sembako. Saya merasa SUSAH untuk menyelesaikannya. Dan lama-kelamaan saya jadi merasa MUDAH. MUDAH PUSING!!. Mendengar jawaban tersebut, Mba' Via malah tersenyum dan menatap saya cemas.
          "oh' ya. kata Hana, Mba' Via pinter matematik. Kalo gitu bisa kasih tips-nya donk! Biar ketularan pinternya."
          "Yakin, pengen pinter ilmu matematika?? Kuncinya adalah kamu lihat guru kamu!" kata Mba' Via yang langsung ngeloyor tanpa menjelaskan apa maksud perkataanya. Saya pun terdiam dalam ruang kebingungan. Apakah hanya dengan ngelihatin guru matematika bisa membuat kita pinter matematika?? Karna keinginan saya supaya jadi murid yang pinter matematika sudah membahana, akhirnya saya mempraktekkan apa yang telah diwangsitkan oleh
mbahmba' Via. Namun setelah beberapa bulan saya praktekkan jurus tersebut, ternyata tidak ada perkembangan. Saya masih tetep bego-bego aja. Kemudian dengan perasaan bagai keledai yang telah ditipu oleh si-kancil saya protes kepada mba' Via.
          "mba' Via kenapa aku masih belum pinter matematika? Padahal aku udah ngikutin kata-kata kamu. Aku udah ngeliatin guru aku fulltime satu pelajaran. Tapi kenapa aku tetep nggak pinter-pinter juga". Mendengar celotehan saya, mba' Via menggeleng-gelengkan kepalanya sembari tertawa sekaligus heran. 
          "Aku nyuruh kamu ngelihatin guru kamu, bukan hanya sekedar untuk dilihat saja Dek! Tapi supaya kamu bisa fokus terhadap apa yang sedang diterangkan. Dan harusnya dengan melihat sang guru, kamu bisa tau kenapa guru kamu bisa pinter. Karna dia menikmati dan mencintai ilmu matematika. Jadi, kalo kamu mau lebih mudah dalam mempelajari sebuah ilmu, maka kamu harus memahami terlebih dahulu makna dari ilmu itu sendiri."
           "o0OOhh..! Maksudnya gimana tuch, mba'??"
           "Gini Dek, sekarang apa yang terjadi kalo mba' matikan lampu yang ada diruangan ini?" ucap mba' Via sambil menekan tombol saklar yang ada disebelahnya.
           "Wah, saya jadi nggak bisa melihat apa-apa nich, mba'." jawab saya spontan.
           "kalo mba' nyalain lagi lampunya, seperti ini?" tanya mba' Via stelah menyalakan kembali lampu yang telah dimatikan.
           "Nah, kalo gini semuanya jadi terang mba'. Saya bisa dengan jelas melihat betapa indahnya taman surga yang bernaung di wajahmu." *kedengeran adeknya-> adeknya ambil panci ke dapur-> pancinya digamparin ke muka si penulis!*
           "Kamu tau dek, sebenernya ilmu itu juga seperti sebuah cahaya. Ketika kita jauh dari ilmu, maka hidup kita akan menjadi gelap. Kita tidak tau apa yang ada di sekeliling kita, dan kita juga jadi tidak bisa membedakan mana yang cakep ^sambil nunjuk ke dirinya^ dan mana yang jelek ^sambil nunjuk kearah penulis!!^. Dan orang yang menjalani hidup tanpa ilmu, sama seperti orang yang berjalan dalam kegelapan, Dek. Dia akan berjalan sambil meraba-raba tanpa tau arah dan tujuan yang pasti, bahkan sangat mungkin dia akan tersandung dan terjatuh. Karna dia tidak bisa melihat rintangan yang ada dihadapannya."
           "Jadi, ketika kita sedang mencari atau mempelajari sebuah ilmu, maka kita harus nenyadari terlebih dahulu bahwa ilmu yang sedang kita pelajari itu, akan menjadi cahaya yang dapat menerangi jalan hidup kita. Bukan malah menjadi sebuah beban yang harus kita tanggung." Pantesan, dari dulu saya selalu merasa kesulitan dalam mempelajari matematika, mungkin karna menganggapnya sebuah beban, bukannya sebagai ilmu yang merupakan cahaya yang bisa menerangi jalan hidup saya.
           "Sekarang coba kamu lihat ke arah langit! Apa yang bisa kamu lihat?" tanya mba' Via sambil menunjuk ke sekumpulan bintang yang bertaburan dilangit dari balik korden jendela yang disilakannya. 
           "Bintang-bintang! Indah banget ya, sinarnya. Meskipun demikian, tetap tidak bisa menandingi indahnya sinar di matamu". ^kedengeran adeknya-> *plakk!-> no comment!^
           "Tapi kalo siang hari, apakah kamu bisa melihat bintang-bintang itu?" "Tidak" "kenapa tidak bisa melihatnya?"
           "Karna bintang adanya kan kalo malam hari mba', kalo siang yang ada ya, matahari".
           "Sebenernya bintang itu tetep ada, sekalipun di siang hari. Namun karna cahayanya kalah terang oleh matahari, jadi sinarnya tertutupi oleh cahaya matahari".
           "Sama seperti ketika kita ingin mempelajari ilmu, yang diibaratkan cahaya. Kita akan sulit dalam mempelajari ilmu tersebut kalau pikiran kita ditutupi atau dipenuhi oleh hal-hal lain. Dan kalo kita mau melihat bintang dengan jelas, maka kita mesthi berada di sebuah daerah terbuka dan tidak dipengaruhi oleh cahaya lain. Atau bisa juga dengan cara memfokuskan mata kita pada teropong bintang. Dan tentunya itu harus kita lakukan pada malam hari, karna ketika malam hari sinar bintang tidak tertutupi oleh cahaya matahari". "Hal itu juga sama saat kita mau mempelajari ilmu, Dek. Kita akan lebih mudah dalam mempelajarinya ketika pikiran kita terbuka dan tidak dipengaruhi pikiran-pikiran lain. Atau kita bisa lebih mudah mempelajari ilmu, ketika kita benar-benar fokus pada ilmu yang tengah kita pelajari tersebut."

     
        *Dari obrolan saya dengan mba' Via malam itu, banyak hal yang yang bisa saya petik tentang makna dari ilmu. Ternyata mempelajari atau mencari ilmu itu janganlah dijadikan sebagai sebuah beban. Karna ilmu adalah Cahaya. Yang bisa menerangi hidup kita, sehingga kita bisa tau arah dan tujuan dalam menjalani hidup ini. Serta dengan ilmu, kita juga jadi bisa lebih mudah dalam membedakan mana yang baik, dan mana yang yang buruk dari apa yang ada di sekeliling kita#