Rabu, 24 Oktober 2012

Sudut Pandang ke-dua (Merendahkan Derajat)

Belum lebaran aja, banyak banget yang udah pada minta maaf. Padahal waktu itu baru hari pertama memasuki bulan ramadhan. Temen kerja minta maaf, temen maen minta maaf, temen pesbuk minta maaf. Sampai-sampai sewaktu saya melakukan PDKT dengan seorang cewek, dan mau nelpon dya, Hp saya juga ikutan minta maaf! *maaf pulsa anda tidak mencukupi . . .*


      Awal bulan puasa kemaren, saya mendapat undangan buat 'Buka Bareng' sama temen-temen bekas lama. Atau lebih tepatnya, temen-temen SD. Sebenernya saya agak males buat datang. Karna mau ngga' mau, disana saya pasti akan ketemu dengan Raya. Gimana nggak?? Secara placenya aja dirumahnya Raya. kalo saya nggak datang, nggak enak sama temen-temen yang laen. Jika saya datang. Mungkin saya akan menggalau disana gara-gara teringat tragedi saat kelas 6_SD.
*Beberapa tahun yang lalu didepan toilet SD_05_kaliwungu . . .*
@Penulis: "Raya, mau nggak kamu jadi pacarku??"
@Raya   : "mmm, aku pikir-pikir dulu ya..."
@Penulis: "Berapa lama???"
@Raya   : "30 tahun . . ."
#TandaDitolak
    


Saya jadi heran, kenapa waktu itu Raya menolak cinta saya?? Secara place, sudah sangat tepat! Ya khan??? Secara face juga lebih memungkinkan. wajah saya lebih ganteng dari Budi Anduk ataupun Arip Pentol (sungguh perbandingan yang logis). Dan Secara finance juga tidak perlu diragukan lagi. Hanya dengan mendengar saya berjalan saja mungkin anda akan tau kalo isi dompet saya dolar semua ^krincing.. krincinngngn^. Tapi ya sudahlah, mungkin saat nolak saya, dia hanya khilaf!




Dengan mengenakan baju bergaris-garis merah lengan panjang saya memenuhi undangan tersebut. Seperti yang sudah saya duga, disana kita bercerita tentang jaman-jaman dulu. Ketika saya kami masih nakal dan bandelya, atau ketika kami saya masih unyu-unyu dan begitu polosnya. Dan kalau ngomongin masa SD, saya jadi ingat ketika masih kelas 5. Dimana anak sekelas mendapat jitakan massal dari pak A*S*R*O*R*I (maaf nama tokoh disensor, guna menjaga nama baik tersangka pelaku), hanya karna ada beberapa anak yang kedengeran ngomong 'As kriting!! As kriting!' mereka bukan sedang maen chapsa, ataupun maen poker. Namun mereka sedang memuji wali kelasnya yang dianugrahi rambut keriting. Mendengar pujian yang sedikit kasar, pak As langsung menanyai satu per satu anak didiknya "siapa tadi yang teriak-teriak As-kriting?!?!" setelah semua anak yang ditanyai tidak ada yang menjawab. Akhirnya pak As memutuskan untuk memberikan surprise berupa jitakan gratis. Dimulai dari anaknya sendiri yaitu si Asrul, hingga ke jitakan paling keras yang diterima oleh Wahyu . . .! Kepada ananda wahyu dimohon untuk mempersiapkan kepalanya. Asli suara jitakannya keras banget. saya yang duduk dengan jarak lebih dari 10 meter aja bisa denger jelas bunyinya.
#pletakk!#
Saya jadi galau setelah mendengar suara tersebut, sebenernya terbuat dari papan atau panci sich' kepalanya? Dan ada salah satu anak yang mendapat jitak awards karna suaranya lain daripada yang lain sewaqtu dijitak. Dia adalah arip pentol. Bunyinya gini "huaaa, emak!! sakit. . ."

      
   "Nggak nyangka ya, lama ngga' ketemu udah banyak yang pada berubah" kata Devi memecah lamunan saya.
         "iya, apalagi yang pake baju garis-garis merah lengan panjang. Tambah ganteng!" sambung Raya jujur dan penuh semangat
         "tapi disini ada yang dari dulu nggak berubah-berubah loch!" kata Sida sambil menatap Arip Pentol penuh makna.
         "Dulu dia item, dan sekarang. . . tetep!" tiba-tiba suasana ruangan kembali sunyi, dan semua penghuni ruangan mengarahkan pandangan matanya kepada Arip Pentol.
         "Setelah mendengar celoteh Sida tadi, saya jadi ingat, kalo dulu ada tebak-tebakan yang sangat populer dan hampir semoa murid dari kelas satu sanpai kelas enam tau jawabannya: 'kenapa kaus kaki Arip Pentol berwarna coklat?' Jawabnya singkat: 'karna kelunturan kulit kakinya'

     
    Sewaktu kembali dari shalat maghrib di mushola yang jaraknya hanya beberapa langkah dari rumah Raya, saya lihat cuman ada Dila di ruangan yang tadinya rame.
        "eh' koq sendirian, mana anak-anak?" tanyaku ke Dila yang sedang asyik mencet-mencet upilnya ketiga BB-nya. Satu ditangan kiri, satu ditangan kanan, dan satunya lagi dipencetin sama kedua kakinya.
        "Ada tuch' di dalem, lagi pada mau shalat" jawab Dila, masih dengan mencetin upilnya ketiga BB-nya.
        "lah, kamu nggak ikutan shalat?"
        "enggak. aku kan lagi libur"
        "oh iya, sekarang kan hari libur nasional*gag nyambung*"
            Dila bukan hanya temen SD saya, di SMP dia juga satu sekolah dengan saya. Dulu disekolah dia adalah salah satu murid yang menonjol. Banyak guru serta teman-teman di sekolah saya yang kagum dengan tonjolannya! Maksud saya, dengan kepintarannya. Dia sering banget jadi juara kelas. Bahkan dia sempat menduduki urutan pertama se-sekolahan. Dan kabarnya, setelah lulus SMA dia dapat beasiswa untuk belajar di Jepang. Makanya pas ngelihat dia sendirian, saya langsung ngedeketin, siapa tau dia kenal sama Miyabi (soalnya koleksi yang saya punya cuma itu saja, hehehehe).
        

     Dalam sebuah kesempatan, saya bisa duduk berhadapan dan berpegangan tangan ngobrolin banyak hal yang sudah kita lewatin dalam kehidupan masing-masing. Dan satu hal yang membuat saya terkejut sama kehidupannya adalah . . . ,karna ia jadi seorang ibu rumah tangga di Jepang sana. Soalnya saya pikir, sayang aja kalo orang sepintar Dia mesthi menyia-nyiakan hidupnya hanya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Tapi ternyata pemikiran saya salah. Waktu saya tanya ke Dia
           "kok kamu mau jadi ibu rumah tangga sich, Dil? Emang susah ya, cari kerjaan di Jepang? Kenapa nggak cari kerja di sini aja?" Dila malah jawab gini ke saya
           "Ris, aku disana jadi ibu rumah tangga bukan karna susah cari kerja. Tapi ini memang panggilan hati aku".
           "maksudnya kaya' adzan gitu??" *itu panggilan shalat oON*
           "Gini Ris. Mungkin kamu juga tau, dulu waktu sekolah aku cukup berprestasi. Malah bukannya mau nyombong, tapi aku sering juara satu sesekolah. Dan hal itu aku bisa dapatkan, karna aku mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan pendidikan yang baik dari orang tuaku, terutama ibuku. Nah, sekarang aku mau anakku pun mendapatkan apa yang pernah aku dapatkan dulu. Aku mau anakku jadi seorang anak yang baik, berbakti, berprestasi, dan bisa bermafaat bagi banyak orang. Dan aku pikir, anakku akan bisa seperti itu kalo dia mendapatkan perhatian lebih dari aku, sebagai ibunya".
         

      Setelah saya ayak' ternyata beber juga apa yang dibilang sama Dila. Saya lihat sekarang ini banyak anak-anak yang kurang mendapat perhatian, karna kesibukan orang tua mereka. Dan banyak diantara anak-anak tersebut yang terjerumus dan melakukan hal-hal menyimpang. Apa lagi banyak orang tua jaman sekarang yang nggak mau dipusingkan dengan perkembangan anaknya. Mereka lebih memilih untuk memasukkan anak-anak mereka ke sekolah atau tempat kursus yang mahal. Dengan harapan, anak-anak mereka bisa menjadi anak-anak yang berprestasi. Namun kenyataannya, anak-anak tersebut justru merasa stress dan tertkan. Yang lebih parahnya, hal itu bisa berakibat buruk bagi perkambangan mental si anak tersebut.
            "Kadang kita berfikir bahwa uang itu adalah segalanya, Ris. Kit pikir dengan  banyak uang, maka kita dan anak-anak kita akan lebih tinggi derajatnya. Tapi kamu tau nggak, pekerjaan apa yang justru kalo mendapatkan uang, malah bisa menurunkan derajat yang mengerjakannya?"
            "hmmm, pekerjaan apa itu Dil?"
            "Pekerjaan yang kalo mendapatkan uang melah menurunkan derajat yang mengerjakannya, adalah pekerjaan rumah tangga, Ris. Termasuk ngurus anak. Kalo yang menerjakan pekerjaan rumah tangga itu ngga' mendapatkan uang, maka pekerjanya disebut 'ibu rumah tangga'. Tapi kalo yang mendapatkan uang, pekerjanya disebut sebagai 'pembantu rumah tangga'"

       
      Lucu juga apa yang dibilang sama Dila. Tapi emang bener sich'! Mungkin sebenernya banyak hal dalam hidup ini kalo hanya diukur dengan uang atau popularitas, maka menurut saya justru akan merendahkan derajat orang yang melakukannya. Seperti saya misalnya. Baru nulis dikit aja, udah pengen terkenal dan masuk TV. Padahal tiap hari udah masuk CCTV Indomaret. Dan ketika saya asyik ketawa bareng Dila, baru sadar. Ternyata dari tadi ada yang lagi mengawasi kita dari pintu depan.
            "Dil, itu siapa Dil?? Bawa-bawa arit lagi Dil?" tanyaku ke Dila dengan gagah berani berdiri di belakangnya. Tiba-tiba orang terswbut masuk ke dalam, terus ngomong gini
            "serramat maramm, nek." katanya sambil membungkukkan badan.
            "loch, Dil. Dia cucu kamu??" 
            "Bukan! Dia suamiku. Yang dibawanya bukan arit, tapi samurai." jawab Dila.
            "kalo suami, kenapa manggil kamu nek??"
            "dia itu manggil nek-nya bukan ke aku, tapi ke kamu!"
            "Haah, aku dipanggil nek??"
            "iya, kalo di Jepang kata 'nek' itu biasanya ditujukan kepada orang yang belum dikenal" jelas Dila.
            "fiuhhh, kirain dia tau kalo aku pernah jadi kenek angkot. Eh' betewe, suami kamu khan orang Jepang. Tapi kulitnya koq item ya?? atau jangam-jangan dia masih sepupuan sama Arip Pentol." tanyaku ke Dila lantang, karna saya kira suaminya baru bisa ngomong  Indomesia hanya 'serramat maram' saja. Namun ternyata dia paham dengan apa yang baru saja saya katakan. Dan dia ngomong gini sambil nyabut samurainya.
            "Kamu menghina saya, nekk. Dasar, sushi, kimchi, teriyaki, tempura miyabi nek!!" Seketika itu juga saya langsung lari dengan bertelanjang dada.

Kamis, 01 Maret 2012

Sudut Pandang ke-dua (a Sign of Love)

Sabtu sore itu, saya sendirian menyusuri jalanan tepatnya di jln_Tambra. Nggak tau mau ngapain? Bukannya saya nggak punya keinginan untuk jalan maupun nonton sama pacar. Tapi karna semenjak lahir saya MENJOMBLO. Pengen juga nongkrong sama temen-temen di tempat yang cozy. Tapi kebetulan duit di dompet saya cuman ngepas buat makan sehari-hari, hingga tiba gajian berikutnya(bilang aja gag punya duit pake muter-muter sgala critanya).

Pas saya lagi jalan sambil bengong, saya lihat dari arah depan ada bapak-bapak yang kelihatannya nggak bisa ngelihat, hendak menyebrang jalan. Dan melihat hal itu, saya jadi tergerak untuk menyebrangkan bapak tersebut.
"Mari pak, saya sebrangkan" ajak saya sambil menggandeng tangan bapak itu, untuk nyampe ke sebrang jalan.
"Trimakasih ya, De" ucap bapak itu sambil tersenyum.

Sesampainya di sebrang jalan, saya bertanya kepada bapak itu.
"emang bapak mau kemana?". Bapak itu kembali tersenyum saat menjawab pertanyaan saya.
"kalo dilihat dari pakaian bapak, coba ade' tebak. Bapak mau kemana??". Aneh juga nich, bapak. Saya tanyain eeh' malah dya balik nanya ke saya. . .
"emmm . . . pasti bapak mau karaokean, khan???" jawab saya lantang.
#pletakk# {stick yang dipake bapak itu buat jalan, mencium kening si penulis dengan kecepatan 130km/jam!}
"bapak
mau dugemmau ke mushola, de'." jawab bapak itu sambil mengarahkan mata ketiganya ke arah minimarket nan bersih dan terlihat megah tepat didepan kami.
"bapak salah arah, pak. Itu khan INDOMARET. kalo bapak mau ke mushola, ke arah sana!"{sambil menunjuk kearah mushola} *dasar o'On!! orang tunanetra ditunjukin arah pake telunjuk. knapa nggak skalian aja pake sandi morse!*
"iya, bapak khan mau mampir dulu di INDOMARET. mau beli futami 17, soalnya lagi promo beli 2 GRATIS 1, hwehwehwee"
"ah, bapak tau aja kalo di INDOMARET tuch emang banyak promonya. Yaudah yu' saya anterin, tapintar gratisannya buat saya ya? :D"


Setelah selesai minum bersama di depan Indomaret, terlintas dipikiran saya untuk mengantarkan bapak ini ke mushola. Skalian mau tobat!! Siapa tau aja dari situ saya bisa dapet hidayah berupa uang yang banyak, biar bisa saya pake buat karaokean atau Dugem:q.


Setibanya di dalam mushola, saya dan bapak tadi mengambil air wudhu, kemudian ikut shalat maghrib berjama'ah. Ketika semua jama'ah sudah keluar mushola. Tinggallah saya dan sang imam shalat. Lho, bapak yang buta disebelah nggak dianggep ya! (sbenernya yang buta siap sihh?). Kemudian si bapak tersebut menyandarkan tubuhnya ke dindimg pinggiran musholla, sambil tiada henti-hentinya mengucap kata 'Alhamdulillah'. Terus terang, saya kagum melihat sosok bapak yang buta ini. Satu sisi dia mengalami cobaan yang cukup berat, berupa kebutaan. Tapi disisi lain, dia senantyasa beryukur kepada Allah.


Dan terdorong oleh rasa penasaran, saya pun memberanikan diri untuk bertanya ke bapak itu,
"pak, saya boleh nanya nggak?" saya mencoba meminta ijin terlebih dahulu, untuk menanyakan.
"tanya apa? Asal jangan tanya soal matematika aja. Bapak udah lupa!" jawab bapak itu sabil tak pernah lepas dari senyumnya.
"kira-kira nomor togel yang bakal keluar minggu depan berapa ya??? {hallah kayaknya udah error stadium tiga nich} Bapak buta sejak lahir ya?" tanyaku dengan nada yang sangat hati-hati. Tapi mendengar pertanyaan seperti itu beliau makah kembali tersenyum.
"nggak de'. Bapak mengalami kebutaan bukan semenjk lahir. Tapi baru aja benerapa tahun yang lalu" jawab bapak itu tenang.
"kalo boleh tau, apa penyebabnya pak?"
"penyebabnya adalah cinta!" jawab bapak itu dengan melemparkan senyumnya yang lebih lebar.
"koq bisa, pak?" tanyaku semakin penasaran.
"khan ada istilahnya, bahwa cinta itu buta! Hwehwehwee.." jawab bapak tersebut dengan diiringi tawanya.


Melihat hal itu saya jadi ikutan ketawa. Tapi dibalik itu, saya semakin kagum sekaligus merasa heran dengan bapak yang sedang duduk dihadapan saya ini. Karna kalo saya mengalami kebutaan sepertinya, maybe.... I'll feel so sad and not be able to smile seumur hidup saya.
"maksudnya gimana, pak? koq cinta
laurabisa menyebabkan bapak jadi buta?" tanyaku untuk mengurangi luapan rasa penasaran.
"Begini critanya, De'. Bukannya sombong, tapi dulu bapak dalah seorang pengusaha yang tergolong sukses. Alias orang kaya!! (sambil menepuk-nepuk dadanya) Dan dengan kesuksesan itu, bapak bisa memiliki apa yang bapak inginkan. Bahkan dengan kesuksesan itu juga, bapak sering bersenganh-senang dengan menghambur-hamburkan uang. Bapak sering dugem dan mabuk-mabukan, sering ikutan judi sama temen-temen, sekear buat have fun. serta tidak ketinggalan {wajib??} bapak pun suka main cewe' saat itu".


Wah kalo denger dari critanya tadi, masa lalu bapak itu ternyata bertolak belakang banget ya, dengan keadaan dia skarang.
"trus, knapa bapak bisa jadi seperti ini??" saya masih bertanya dengan intonasi penasaran.
"kan' diawal tadi bapak udah bilang, ini semua karna cinta" bapak itu kembali tersenyum ketika menjawab pertanyaan saya.
"Critanya gini, suatu hari ketika bapak pulang dari dugem dengan mengendarai mobil, dan dalam keadaan mabuk. Waktu itu, bapak nyetir dengan ugal-ugalan, mungkin karna dibawah pengaruh alkohol. Hingga pada akhirnya, mobil yang bapak kendarai menabrak pembatas jalan tol. Dan menyebabkan mobil bapak hancur berantakan.
lebih berantakan dari muka kamuKaca mobil bapak pecah berkeping-keping, dan sebagian kaca itu terlempar kearah wajah bapak hingga mengenai mata. Sehingga semenjak saat itu mata bapak menjadi buta."


Sebuah kecelakaan yang mengenaskan, meskipun sebenernya itu adalah akibat ulah si~bapak itu sendiri.
" Emang waktu itu bapak nggak berobat? Khan bapak punya banyak uang??"
"cobaan yang bapak terima, ternyata belum cukup sampe disitu De'. Setelah kejadian itu, bapak tidak bisa berbuat apa-apa dan bapak merasa sangat stres!! Saat itu bapak pikir, bapak telah kehilangan segalannya. Bapak tidak bisa lagi menikmati indahnya
wanitadunia, yang biasa bapak nikmati. Bahkan bapak merasa hidup ini sudah tidak ada artinya lagi."
"dan sejak mata bapak mengalami kebbutaan, satu/satu orang yang tadinya dekat dengan bapk, mereka pergi meninggalkan bapak. Bahkan beberapa rekan bapak, tega menghancurkan bisnis yang telah bapak bangun."
"yang lebih ironisnya lagi istri yang sangat bapak harapkan saat itu, malah pergi meninggalkan bapak dan berselimgkuh dengan sahabat bapak sendiri_setelah dia melihat keadan ekonomi bapak yang semakin jatuh dan terpuruk karna kebutaan ini".



Terus terang, saat dengar cerita itu, saya jadi semakin miris dengan apa yang bapak itu alami.
"lalu, bagaimana kehidupan bapak selanjutnya?"
"Setelah semua orang pergi meninggalkan bapak, bapak sudah tidak punya apa-apa lagi. Rumah bapak pun dijual oleh mantan istri bapak, hingga akhirnya bapak harus terusir dari rumah sendiri. Saata itu bapak nggak tau mesthi kemana? Karna orang tua bapak sudah tiada, dan saudara-saudara bapak juga sejak lama menjauhi bapak. Akibat ketikabapak masih jaya, yang tidak pernah perduli dengan kesusahan mereka".
"Hingga pada suatu hari. Saat bapak tengah berjalan sendiri tanpa tau arah dan 7an. Ada seorang pengurus sebuah pesantren, yang kebetulan kenal dengan bapak. Karna dulu almarhum orang tua bapak sering mengajak bapak ketika menyumbang di pesantren tersebut." lanjut bapak itu yang berusaha mengingat seluruh kejadian yang telah dia alami.
"di pesantren itu, pada awalnya bapak masih belum bisa menerima segala cobaan ini. Bapak merasa ini adalah sebuah kutukan yang diberikan Allah kepada bapak. Akibat semua keburukan yang telah bapak lakukan ketika masih punya uang!"
"Namun berulang kali, para pengurus pesantren itu terus berusaha untuk menyadarkan bapak. Dan mereka mengajak bapak untuk mulai mendekatkan diri kepada Allah, dengan shalat, dzikir, dan ibadah lainnya. Yang mana hal tersebut sama sekali tidak pernah bapak lakukan ketika bapak masih menjadi orang yang normal dan sukses. Dan kamu tau, apa yang bapak rasakan setelah melakukan PDKT kepada Allah?" tanya bapak itu ke saya.
"Apa tuch pak??"
"Bapak baru menyadari, ternyata kejadian tragis yang telah bapak alami itu, bukan karna Allah benci atau mengutuk bapak. Namun sebaliknya, itu semua karna Allah cinta sama bapak." jawab bapak itu sambil melemparkan senyumnya lagi kearah saya. Dan dibalik senyumnya itu, terlihat ada air mata yang menetes membasahi pipinya.
"koq bapak bisa berfikir seperti itu ?" saya bertanya lagi, karna masih belum bisa mengerti maksud dari pembicaraan si~bapak tadi.
"selama ini bapak diberikan nikmat yang begitu banyak oleh Allah, berupa kesehatan dan harta yang melimpah. Namun apa yang bapak lakukan dengan semua kenikmatan itu? Bapak tidak pernah bersyukur ats itu semua. Bahkan bapak sama skali tidak pernah mau dekat atau mengenal Allah. Karna bapak terlalu terlena dengan semua kenikmatan dunia yang bapak dapatkan. Kalo Allah tidak sayang sama bapak, dengan memberikan tanda cinta berupa kebutaan dan kejadian lainnya, mungkin bapak akan terus terlena oleh harta dan kenikmatan dunia hingga akhir hayat bapak nanti. Dan bapak akan mati dalam keadaan yang kotor dan tidak mengenal Allah sama sekali. Tapi untunglah, Allah masih sayamg kepada bapak. Allah masih mau memberikan sebuah tanda cinta berupa kebutaan dan kejadian tragis yang bapak alami lainnya. Hingga saat ini, bapak bisa mengenal dan merasadekat dengan Allah". Jawaban yang diselingi dengan senyuman itu sungguh menggetarkan hati saya saat itu.

Selasa, 31 Januari 2012

Jebakan Monyet

Ada teknik berburu monyet dihutan-hutan Afrika,Caranya begitu unik. memungkinkan sipemburu menangkap monyet dalam keadaan hidup-hidup tanpa cedera sedikitpun.

Cara menangkapnya sederhana saja. pemburu hanya menggunakan toples berleher panjang & sempit. Toples itu diisi kacang yg telah diberi aroma. Tujuannya, untuk mengundang monyet-monyet dtg.Setelah diisi kacang, toples-toples itu ditanam dalam tanah dgn menyisakan mulut toples dibiarkan tanpa tutup. Para pemburu melakukannya disore hari.Besoknya, mereka tingal meringkus monyet- monyet yg tangannya terjebak di dalam toples tak bisa dikeluarkan.
Kok, bisa ?
Monyet-monyet itu tertarik pada aroma yg keluar dari setiap toples. Mereka mengamati lalu memasukkan tangan untuk mengambil kacang-kacang yg ada di dalam. Tapi karena menggenggam kacang, monyet-monyet itu tidak bisa menarik keluar tangannya. Selama mempertahankan kacang-kacang itu, selama itu pula mereka terjebak. Toples itu terlalu berat untuk diangkat. Jadi, monyet-monyet itu tidak akan dapat pergi ke mana-mana!
Mungkin kita akan tertawa melihat tingkah bodoh monyet-monyet itu. Tapi, tanpa sadar sebenamya kita mungkin sdg menertawakan diri sendiri. Ya, kadang kita bersikap seperti monyet-monyet itu. Kita mengenggam erat setiap permasalahan yg kita miliki layaknya monyet mengenggam kacang.
Kita sering menyimpan dendam, tak mudah memberi maaf, tak mudah mengampuni. Mulut mungkin berkata ikhlas, tapi bara amarah masih ada di dalam dada. Kita tak pernah bisa melepasnya.
Bahkan, kita bertindak begitu bodoh, membawa “toples-toples” itu ke mana pun kita pergi. Dgn beban berat itu, kita berusaha untuk terus berjalan. Tanpa sadar, kita sebenamya sdg terperangkap penyakit kepahitan yg akut.
Sebenarnya monyet-monyet itu bisa selamat jika mau membuka genggaman tangannya. & kita pun akan selamat dari sakit hati jika sebelum matahari terbenam kita mau melepas semua perasaan negatif terhadap siapapun.
Selamat membuka genggaman tangan…!

Sumber: Golden Fibonacci