Jumat, 29 Juli 2011

Ibarat Akar dan Batang Pohon

Sore-sore pak Didik sedang sibuk ngurusin tanaman yang ada di halaman rumahnya. Apalagi semenjak dia pensiun, saya lihat hampir tiap sore pak Didik ngerawat tanaman yang lumayan banyak menghiasi pekarangan rumahnya itu.

Jum'at sore begini, tadinya saya mau jogging ke Cindelaras. Tapi niat itu saya batalin saat saya ngeliat pak Didik. Saya malah kepikiran buat bantuin pak Didik yang lagi ngurusin tanamannya. Maklum jiwa sosial saya kan tinggi Bukannya apa-apa, soalnya tetangga saya ini punya anak perempuan yang cantik' namanya Linda. Siapa tau aja kalo saya ngebantuin, pak Didik bakalan khilaf dan ngejodohin saya dengan anak gadisnya yang satu ini.
"lagi sibuk ya, pak? Saya boleh bantuin?"
"eh, kamu Riz. Iya nich' biasalah namanya juga pensiunan. Daripada plonga-plongo nggak ngapa-ngapain, mendingan saya ngurusin tanaman-tanaman ini. Silahkan, kalo kamu mau bantuin. Kebetulan saya baru beli pot sebesar lemari yang belum dipindahin"
*Busyeet, kaya'nya saya bakalan di suruh mindahin pot yang segedhe lemari nich*
"emang pak Didik seneng melihara tanaman, ya?" tanyaku ke pak Didik.
"oh iya,, dari muda dulu memang saya hobinya memelihara tanaman. Karna bapak saya dulu juga hobinya memelihara tanaman, jadinya saya ketularan. Kalo nak Rizky suka juga nggak, sama tanaman?".
"lumayan suka, , , tapi saya sukanya yang sejenis bunga, pak. Mulai dari bunga Mawar, bunga Desa Anggrek, sampe bunga entut-entutan saya juga suka {hallaah}"

"Riz, tolonk donk. Bantuin saya pindahin tanaman ini ke pot yang lebih besar sebelah sana!" kata pak Didik, sambil menunjuk ke arah pot tanaman yang terbuat dari tanah liat yang terlihat masih kosong.
"ya, pak"
"tapi hati-hati ya, memindahkannya. Jangan sampe akarnya pada rusak. Soalnya ini salah satu tanaman kesukaan saya" pak Didik mewanti-wanti saya supaya berhati-hati dalam memindahkan tanamannya.

Saya dan pak Didik pun memindahkan tanaman miliknya dari pot asalnya, ke pot kosong yang berukuran agak besar. Setelah itu, pak Didik menambahkan tanah dan pupuk ke pot yang telah diisi tanaman tersebut.
"kamu tahu nggak, bahwa kebanyakan tanaman itu mempunyai akar yang sama panjang dengan batangnya?".
"masa' sich pak? Berarti, pohon kelapa atau beringin itu, akarnya panjang juga donk??"
"oh' iya. . .! Semakin tinggi atau panjang batang pohonnya, maka akarnya pun akan semakin panjang. Dan itu sebenarnya berlaku juga dalam kehidupan manusia".

"maksud bapak, kalo akar kita makin panjang, maka batang kita akan semakin panjang juga, ya??"
*o'ONnya kumat*

"maksudnya gini, Riz. Kalo hal itu kita analogikan, maka batang kita pohon itu bisa di ibaratkan dengan derajat kita dalam kehidupan ini. Dan akar pohon adalah ilmu yang kita miliki. Itu artinya, semakin tinggi atau banyak ilmu yang kita miliki, maka akan semakin tinggi pula derajat hidup kita" kata pak Didik yang menerangkan tentang analogi ilmu bila di ibaratkan dengan akar dari kehidupan.

"oh iya, pak. Eniwei linda kemana ya? Koq dari tadi kaya'nya nggak kelihatan!" tanyaku tentang Linda, anaknya pak Didik yang cantik itu.
"ooh, Linda sudah dijemput pacarnya tadi. Katanya sich mau ke Gramed**."

Dan jawaban pak Didik itu jelas memupuskan harapan saya untuk bisa PDKT dengan Linda! :'(

Selasa, 26 Juli 2011

Sarapan yang terAniaya

Pagi itu, jam pelajaran pertama adalah Bahasa Inggris. Seperti biasanya bu Ayu' mengajar dengan metode khas beliau, yaitu dengan diiringi cerita-cerita ringan yang tetap mengarah pada pokok materi pelajaran yang sedang diterangkan.
Setelah beberapa jam berlalu, namun belum juga terdengar bunyi bel yang menandakan jam istirahat. Sementara jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit.
"Riz,, Riz,, Riz!!" keseriusan saya yang sedang dengerin cerita dari bu Ayu' terbuyarkan oleh sebuah calling dari arah belakang, yang tak lain adalah si Justin Bibir alias kamil.
"napha-napha?!?"
"ke kantin yu', gue laper banget nich belum sarapan!"
"ah' nanggung, paling lima belas menit lagi juga istirahat"
"kalo disuruh nunggu lima belas menit lagi, bisa-bisa gue lebih kurus dari loe!"
"Sial loe!! mau ngajakin ke kantin atau mau ngajakin ribut nich?"
"ya udah 'elo ganteng dech, makanya temenin gue ke kantin!!"
"iya-iya,, buruan loe minta ijin sana!".
Daripada nich anak rewel melulu, dan takutnya temen di bangku seberang mikir yang enggak-enggak. Coz dari tadi tuh bocah ngeliatin melulu. Jadinya saya iya'in aja. Karna letak kantin yang searah dengan toilet. So, si Justin ijinnya sama bu Ayu' mau ke toilet. Nggak mungkin kan, ngomong terus terang kalo kita mau ke kantin. ntar malah-malah bu Ayu'ikutan ke kantin, kan gawat tuch soalnya nggak ada yang buat bayarin.

Satu menit, dua menit, tiga menit. akhirnya mateng juga dua mangkok mie rebus yang kita pesen. Sengaja pesennya mie rebus, biar nggak terlalu lama nungguinnya. Soalnya kalo mau pesen mie ayam sekarang, bisa-bisa besok pagi baru jadi. 'kan agak lama juga tuch! Dan kita rada kurang sabar nungguinnya. Gimana tidak, kalo setelah diselidiki ternyata yang punya kantin baru mengejar-ngejar ayam milik penduduk sekitar yang sedang bengong. Kalo misalnya udah dapet, baru kemudian disembelih, dicabutin bulunya satu-satu, dibersihkan lagi, direbus dan dipotong kecil-kecil untuk mie ayam. Alangkah kasihannya nasib si pembeli!

Pernah sewaktu kelas satu, saya dalam posisi lapar yang sudah tak tertahankan. Belum sarapan. Karna pelajaran sedang kosong, saya berinisiatif untuk ke kantin. Mau makan diluar, tapi situasi kurang memungkinkan, coz nggak bisa mengontrol kelas yang siapa tau gurunya tiba-tiba dateng. Jadi terpikirlah kantin yang letaknya dibelakang bangunan kelas saya. Maka sayapun pesen mie ayam disitu. Tapi ditunggu-tunggu ternyata lama sekali. Setengah jam lebih belum jadi juga. Sampai guru kimia yang galaknya kayak trio macan itu nongol dari arah kantor. Langsung aja saya kabur meninggalkan kantin lewat pintu samping, truz belagak dari toilet dan masuk ke kelas sambil menunjukkan expresi muka yang menyerupai closed. Namun ketika pelajaran sedang berlangsung, datang seorang gadis yang ternyata adalah anak dari ibu kantin mengetuk pintu kelas untuk mengantarkan mie ayam pesanan saya. Jelas saja saya kaget dan jadi bahan ketawaan makhluk-makhluk penghuni 'X~ B'.


*Dan baru aja kami menyantap beberapa sendok {emangnya kita kuda lumping}. Maksudnya beberapa suap.
#Duerr#
Tiba-tiba kami terkagetkan dengan suara gebrakan meja oleh bu Ayu'.
"Bagus ya. . . ! Bilangnya mau ke toilet, tapi malah nyasar ke kantin!!" kata bu Ayu' sembari mengacungkan jari telunjuknya dan diiringi juga oleh geleng-geleng kepalanya (hallaahh, dikira lagi dugem apa).

"iya, ini baru dari toilet koq bu'. Cuman mampir sebentar" ngelez Justin
*padahal ke toilet buat cuci tangan sebelum makan* Tapi apapun alasannya. minumnya teh botol sosro Bu Ayu' tetap memberikan hukuman. Hukumannya adalah, menghabiskan mie yang sedang kami makan. Enak banget ya, hukumannya?? ENAK GUNDULMU! Tau nggak, disuruh ngehabisinnya dimana? DI DALAM TOILET. Kalo di toilet guru sich masih mending. Tapi ini di toilet yang disediain khusus buat murid cowok! Hedeuh, baunya aja. . . bikin saya nggak berselera untuk hidup. Namun, yang mengherankan saya. Koq si Justin nggak ngerasa jijik sedikitpun ya. . .? Atau. . . jangan-jangan, nich anak emang hobinya makan di toilet??

"ah, ibu kantin gimana sich?" kata Justin yang keliatannya agak kesel.
"iya tuch. Masa' bu Ayu' dateng nggak bilang-bilang" sambung saya dengan nada pelan. Soalnya takut kedengeran sama bu Ayu' yang sedari tadi ngawasin kita dengan senyum penuh kepuasan diatas penderitaan kami saya.
"bukan gitu, tapi ini loch' ngasih kuah mie~nya kurang!"
"haah" saya cuman bisa melongo ngedengernya,
"loe beneran, kuahnya masih kurang??" tanyaku yang saat itu pengen banget ngebejek-bejek mukanya si Justin.
"ho'oh" jawab Justin singkat dan penuh harapan.
"coba loe liatin, ini apa?"
"closed. . ." jawab Justin kebingungan.
"Kalo yang ini apa'an?" lanjut saya sambil menunjuk kearah air yang berada diclosed.
"air. . . truz knapa?" balas Justin yang tambah bingung.
"naah, loe sendokin tuch air closed kalo kuahnya masih kurang!!"
. . .

Teet, teet, teeett. . . .
Kemudian, tanda bel istirahat berbunyi. Dan lumayan banyak juga murid yang berbondong-bondong ke toilet. Saat anak-anak yang ke toilet tersebut melihat kami sedang asyik menikmati rasanya makan mie di dalam toilet. Merekapun mengeluarkan ponsel masing-masing dan mengambil gambar kami berdua. Waduh! Serasa jadi artis mendadak. Sejak kejadian itu, kami jadi terkenal di kalangan SMA 3. Banyak guru dan siswa-siswi yang sering minta foto bareng dan tanda tangan segala.

Cerita Tentang Burung

Jujur aku seorang pecinta kebebasan ....eits tunggu kebebasan ku kebebasan yang bertanggung jawab. Pecinta kebebasan .... senang jika tersesat, merasa hidup adalah petualangan dibandingkan dengan pertandingan.
Pertandingan membuat mu berkompetisi.... bukannya jelek sih, tapi dalam pertandingan terkadang "proses" dilupakan demi menjadi juara. Tetapi terus-menerus berada dalam proses pun tidak baik, karena hidup tidak akan menunggu mu .....

dulu aku mengibaratkan diri seperti layangan, biarpun senang terbang dibawa angin tetap ingin "dipegang" tapi tidak kencang karena itu saat mencari pasangan analogi ku selalu ingin mencari pemain layangan handal. Aku pikir aku sudah menemukannya tapi aku pikir aku salah...tapi entahlah.

Akhir-akhir ini aku merasa seperti burung.... analogi baru lagi untuk menggambarkan diri.
maka cerita tentang burung ini ...cerita tentang aku dan mungkin kamu?

Burung .... Tuhan menciptakannya dengan sayap untuk terbang, menjelajahi awan, bermain di langit luas. Tidak ada yang bisa mengikatnya ...tapi ...Burung, selalu ingat secara sadar tidak sadar .. sejauh mana pun dia menjelajah terbang, selalu ingat untuk pulang. Burung selalu kembali ke sarangnya ...pada akhirnya. itu aku... apakah itu kamu juga?

maka, saat aku hidup dengan bebas ingatlah... aku pasti kembali, apakah kamu bersedia menjadi sarang bagi burung ku? *pertanyaan yang entah ditujukan untuk siapa*

Relationships are like birds, if you grip tight they die, if you hold loosely they fly but if you hold with care, love & respect they remain with you forever.

I always wonder why birds choose to stay in the same place when they can fly anywhere on the Earth. Then I ask myself the same question.


yup... uneg-uneg menjadi burung ini meluap-luap, seseorang telah berhasil membuatku merasa aku telah menemukan pemain layangan ku, seseorang yang juga membuat ku merasa aku harus terbang seperti burung.... apakah itu aku? atau kamu? atau siapa pun....
ini cerita tentang burung.