Selasa, 14 Juni 2011

Surat Untuk Bunda (repost)

Pagi itu cuaca tak secerah biasanya. Langit muram menyambut Minggu pagi yang seharusnya cerah itu. Hujan turun membasahi trotoar yang seharusnya dilewati para muda-mudi yang sedang berlari pagi atau para lansia yang berjalan santai untuk meregangkan otot-otot mereka yang kaku. Pagi itu benar-benar sepi. Kendaraan tak terlihat berlalu-lalang, burung-burung bergelung di sangkarnya, hanya sesekali terdengar suara katak. Semua makhluk seakan malas pagi itu, termasuk di sebuah rumah di Jl. Sadewa. “SAYUUR!! SAYUUUUR!” sebuah teriakan dari Bang Miat sang penjual sayur memecah kesunyian pagi itu.
“Di, tolong belikan Bunda cabai sepuluh ribu di Bang Miat! Pakai uang kamu dulu, ya!” pinta Bunda pada Adi.
“Pakai uangku, ini aja tinggal ceban buat nanti main badminton, Bun!” sahut Adi yang sedang asyik bermain game Call Of Duty 4 di komputernya.
“Besok Bunda ganti, deh…ayo cepat, nanti Bang Miat-nya keburu kabur!” lanjut Bunda.
“Ok, ok, tapi tolong jangan dimatiin ya komputernya!” jawab Adi setuju sambil mencari uang sepuluh ribuan yang disembunyikannya di bawah monitor komputer. Sedetik kemudian Adi langsung mengambil payung dan bergegas mengejar Bang Miat untuk membeli cabai. Dengan sandal jepit kesayangannya ia tapaki jalan dalam pengejaran tukang sayur yang enerjik itu.


“Ah, dasar Bunda, orang libur kok masih disuruh-suruh! Kemarin pagi orang mau main futsal malah disuruh jemurin cucian seminggu, sorenya disuruh nyapu, ngepel, terus nyupir (nyuci piring), eh…sekarang orang lagi asik main computer malah disuruh beli cabe! Mending kalo pake duitnya, pake duitku pula! Aduuuh, Bunda maunya apa, sih sebenernya? Udah kalo cerita ke tetangga suka nggak nganggep hasil pekerjaanku, lagi!” gumam Adi sambil berjalan. Sesekali ia bersusah payah membetulkan payung tuanya yang menggulung saat tertiup angin.
Adi sebenarnya adalah seorang anak yang cerdas dan kritis. Namun, dia memiliki sifat malas dan suka memendam perasaan di dalam hati. Semua masalah yang dihadapinya tidak pernah diceritakan ke orang lain. Karena itu, masalah-masalah yang dimilikinya semakin hari semakin banyak dan membebani pikirannya. Dengan semua masalah yang membebani serta tersulut masalah dengan Bunda tempo hari yang menjadi klimaks, ia menjadi terlampau kesal kepada Bunda.
Di dapur, Bunda sedang asyik membuat nasi goreng special kesukaan keluarganya. Dengan penuh ketelatenan, dihiasnya nasi itu dengan begitu cantik dan terkesan mewah. “Wah, ada koki restoran kesini tadi, Bun?” tanya Ayah yang tiba-tiba muncul dari pintu dapur memuji pekerjaan Bunda.
“Ah, Ayah ini paling jagonya memuji, deh! Sudah, tunggu saja di meja makan, sebentar lagi siap, kok!” kata Bunda ramah. Ayah yang memang sudah keroncongan segera ngacir ke meja makan sambil berharap bisa makan banyak. Bunda yang telah selesai menghias nasi goring pun segera membawa masakannya ke meja makan. Walau lapar, Ayah dan Bunda masih menunggu Adi kembali dari membeli cabai untuk makan bersama. Mereka tidak ingin melewatkan hangatnya kebersamaan dalam suasana hujan kali itu.


Tok…Tok! “Assalamu’alaikum!” teriak Adi yang baru kembali dari membeli cabai. “Ini Bun, cabenya! Tadi udah aku pilihin yang seger-seger” ujar Adi sambil memberikan bungkusan koran berisi cabai pada Bunda di meja makan. “Wah, ada nasgor, nih! Aku langsung makan ya, Bun!” kata Adi semangat setelah melihat nasi goreng special buatan Bunda.
“Tunggu, kita berdo’a dulu, ya, Di!” kata Ayah sambil menepuk tangan Adi yang hendak mengambil nasi. Bunda yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum sambil menaruh bungkusan cabai tadi di lemari es.
Setelah berdo’a bersama, keluarga itu pun makan bersama dengan diselingi obrolan-obrolan ringan dan hangat. Senyuman terlihat terpancar dari wajah Ayah dan Bunda, namun tidak di wajah Adi. Adi justru cemberut tidak senang dan menatap sinis ke arah Bunda.


Setelah makan, Ayah lantas berangkat ke bengkelnya meninggalkan Adi dan Bunda. Ayah Adi memang seorang wirausahawan yang cukup perhatian pada karyawannya serta rajin. Walau hari Minggu beliau tetap pergi ke bengkel untuk mengawasi pekerjaan para karyawannya. Beliau juga selalu membimbing karyawannya untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang terbaik. Benar-benar contoh wirausahawan teladan.
Sementara Bunda sibuk mempersiapkan diri untuk menghadiri acara pernikahan tetangga, Adi dengan santai mendengarkan mp3 player sambil menikmati sebungkus keripik singkong. Di atas kursi goyang rotan Adi menggoyang-goyangkan kepala dan tangannya seirama dengan alunan lagu. Sesekali ia juga menyanyikan sepotong syair lagu yang ia ketahui.
“Di, tolong nanti kamu cuci piring, ya! Gara-gara tadi kita makan besar, cucian piring jadi menggunung. Tolong, ya!” pinta Bunda sambil tersenyum pada Adi. Sebenarna Adi tidak mau, namun belum sempat Adi protes Bunda sudah keluar pintu dan pergi dengan kecepatan penuh.


“Wah, Bunda parah bener! Semua pekerjaan rumah aku yang ngerjain. Memangnya aku pembantu! Kalo gini bisa rugi aku, tiap ngerjain apa-apa aku nggak pernah dapet imbalan apapun dari Bunda. Padahal aku berhak dapat imbalan. Ya, minimal bonus uang jajan, kek!” gerutu Adi. Bisikan-bisikan hawa nafsu mengelilingi pikirannya saat itu. Ia tidak dapat menahan emosi. Diambilnya secarik kertas dan bolpoin. Ditulisnya sebuah surat yang isinya sebagai berikut:

Kepada: Bunda yang aku sayangi

Bunda, selama ini Bunda sering menyuruhku melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah yang sebenarnya enggan kulakukan. Namun, belum pernah Bunda memberi sebuah penghargaan atas apa yang kulakukan.
Setelah kupikir-pikir, bila begini terus aku akan dirugikan oleh Bunda. Maka dari itu aku tulis surat ini. Ini adalah surat permintaan atau lebih tepatnya tuntutanku kepada Bunda. Mulai sekarang, aku akan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah hanya apabila Bunda memberi imbalan yang kuinginkan.
Berikut ini adalah daftar imbalan-imbalan (tarif) untuk setiap jenis pekerjaan rumah:

*
Biaya untuk menyapu lantai: Rp 3.000,-
*
Biaya untuk mengepel lantai: Rp 3.000,-
*
Paket sapu dan pel: Rp 5.000,-
*
Biaya untuk nyupir: Rp 2.000,-
*
Biaya nyiram tanaman: Rp 1.500,-
*
Biaya pekerjaan lainnya: Rp 2.500,-

Demikian surat ini aku ajukan untuk Bunda. Aku sudah membuat tarif yang murah untuk Bunda penuhi. Aku harap Bunda dapat membayar sesuai tarif atau dengan barang seharga yang telah ditentukan. Terima kasih atas perhatian Bunda, tolong dahulukan KEWAJIBAN daripada HAK!
Anak/pesuruhmu,
TTD
Adi


Surat itu lantas dimasukkannya dalam sebuah amplop putih kecil. Diambilnya segulung isolasi dari dalam laci meja belajarnya. Kemudian dihampirinya meja kaca rias di dalam kamar orangtuanya. Ditempelnya amplop berisi surat itu di tengah kaca, dan segera pergi meninggalkan rumah untuk bermain kelereng bersama teman-temannya karena hujan telah berhenti.
Satu jam kemudian Bunda pulang. Karena rumah terlihat kosong, Bunda berkeliling untuk mencari Adi. Setelah mencari di sekeliling rumah, bukan Adi yang ditemukannya melainkan sebuah amplop berisi surat tadi.
Bunda lantas duduk di atas tempat tidur untuk membacanya. Linangan air mata mengalir membasahi pipinya yang merah. Melunturkan riasan wajahnya yang tipis minimalis. Namun perlahan Bunda mencoba tabah menghadapinya. Beliau lantas menarik nafas panjang untuk mengkondisikan mentalnya. “Astaghfirullahaladzim,” hanya kata itu yang dapat keluar dari mulutnya. Senyuman tiba-tiba terlihat di wajahnya.
Bunda lantas mengambil secarik kertas dari buku catatan pengeluarannya dan sebuah bolpoin dari atas meja telepon. Ditulisnya sebuah surat balasan untuk Adi di atas tempat tidurnya. Diletakkannya surat itu di atas meja makan. Di samping surat itu juga tersedia semangkuk sayur bayam untuk Adi makan siang itu dan ditutupinya dengan tudung saji.
Setelah adzan dzuhur berkumandang, Adi pulang dan segera memburu meja makan untuk mengisi perutnya yang lapar. Ditemukannya semangkuk sayur bayam dan sepucuk surat balasan yang bertuliskan “Dari Bunda” di samping mangkuk sayur tersebut. Dibukanya perlahan-lahan surat itu dengan harapan mendapat respon yang diinginkan dari Bunda. Namun, yang ditemukannya adalah surat yang bertuliskan,

Untuk Adi tercinta

Setelah membaca surat dari Adi, Bunda menyadari kesalahan Bunda. Bunda baru sadar kalau Adi ternyata merasa keberatan dengan semua permintaan sederhana Bunda. Bunda juga sadar kalau Bunda belum cukup memberi apresiasi atau timbale balik atas semua yang Adi lakukan.
Namun, Bunda hanya ingin Adi tahu bagaimana apresiasi atau yang Adi katakana sebagai tariff atas apa yang Bunda lakukan selama ini. Bunda yakin Adi tidak akan merasa keberatan dengan tarif ini. Berikut adalah rincian tarif tersebut:

*
Biaya untuk mengandungmu selama 9 bulan: GRATIS
*
Biaya untuk rasa sakit saat melahirkanmu: GRATIS
*
Biaya untuk menyusuimu selama 2,5 tahun: GRATIS
*
Biaya untuk keringat dan air mata yang menetes selama kau tumbuh: GRATIS
*
Biaya untuk mengajarkan Islam padamu: GRATIS
*
Biaya untuk merawatmu saat kau sakit: GRATIS
*
Biaya

Intinya, semua itu telah dengan ikhlas Bunda lakukan untukmu. Sebenarnya tak ada satu hal pun yang bunda pinta darimu kecuali keikhlasanmu. Tak sekalipun Bunda mengharapkan kau tumbuh menjadi orang yang sukses dan mengharapkan materi berlimpah. Tak sekalipun Bunda berharap kau menjadi juara olimpiade sains dunia dan mengharumkan nama keuarga. Tak sekalipun Bunda harapkan kau menjadi presiden dan memperbaiki negara yang carut-marut ini. Namun, yang Bunda inginkan hanya keihlasanmu berbakti pada orangtua.
Sekian surat balasn ini…



Belum selesai Adi membaca surat itu, air mata telah deras mengalir membanjiri wajahnya. Semua bulu kuduknya merinding membaca surat itu. Tangannya gemetar memegang secarik kertas ringan itu. Kakinya terasa lemas, lantai yang dingin semakin membuat darahnya seakan membeku dan bibirnya bergetar. Adi menangis menyadari betapa kejam dan tidak bermoral perbuatannya.
Dibayangkannya semua kebaikan Bunda padanya. Adi tertunduk membayangkan rasa sakit yang Bunda alami saat melahirkannya. Belaian halus, kecupan hangat, nasihat-nasihat, serta senyum tipis yang selalu menggelayut di wajah Bunda terproyeksi dengan sangat jelas dalam kepalanya. Ia ingat ketika Bunda panik dan bergegas menolongnya saat ia terjatuh dari sepeda dahulu. “Ya Allah, hamba telah durhaka. Mungkin hamba telah membuat Bunda menangis karena perbuatan dungu yang hamba lakukan. Ya Allah, ampunilah hambamu ini!” ujar Adi sambil meletakkan surat Bunda di atas meja makan.
Adi segera berlari memburu pintu kamar Bunda. Dibukanya pintu itu dan ditemuinya Bunda yang sedang tidur. “Bunda, maafkan Adi, ya! Adi berjanji tidak akan mengulangi hal bodoh ini. Adi sadar jasa Bunda takkan dapan adi balas, meski lautan emas sebagai gantinya. Bunda, maafkan Adi, ya!” bisik Adi sambil memeluk Bundanya. Setelah itu, ia langsung menutupi tubuh Bunda dengan selimut sambil tersenyum.
Adi segera berjalan keluar dari kamar itu untuk segera melaksanakan shalat dzuhur. Ia berniat meminta maaf pada Bunda setelah beliau bangun nanti. Ditutupnya pintu kamar dengan perlahan agar Bunda tidak terbangun karenanya. Tapi, tanpa diketahuinya Bunda mendengar semua yang dikatakannya tadi. Bunda pun tersenyum dan melanjutkan tidurnya.

☺☺☺
Ibu sudah seharusnya menjadi orang yang paling kita hormati. Tanpanya kita tak akan pernah terlahir ke dunia. Bahkan, sebuah perkataan menyatakan bahwa surga itu di telapak kaki ibu. Apapun yang orangtua kita perintahkan untuk kita lakukan, lakukanlah! Sesungguhnya pasti ada kebaikan tersirat didalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar