Kamis, 10 November 2011

Antara Cinta dan Coklat

Sewaktu SMA saya punya temen, namanya Indah. Orangnya cantik, kulitnya putih, idungnya mancung, badannya langsing, tapi brewokan!
(kira-kira kamu mau nggak, sama cewek cakep, tapi brewokan?? Kaya osama bin laden!).
Nggak kog, Indah nggak brewokan. Paling nggak, Indah nggak brewokan di bagian dagunya!


Banyak cowok di sekolah yang naksir sama dia, termasuk saya. Tapi nggak tau kenapa, kayaknya Indah susah banget buat menerima salah seorang diantara
kamicowok-cowok itu. Yang jelas, Indah adalah tipe cewek yang punya prinsip berkenaan dengan cinta. Hal itu saya tau ketika waktu itu,, kbetulan saya bisa makan bareng sama dia di jam istirahat.

"Ndah' aku boleh nanya nggak?" saya mencoba menanyakan apa yang waktu itu membuat saya penasaran.

"emang kamu mau nanya apa, Riz?" kata Indah.

"kira-kira, nomer togel yang bakal keluar minggu depan, berapa ya??"{emangnya Indah itu jin. . .?}

"kenapa sich kog sampe skarang kamu belum punya pacar? Khan banyak tuch, cowok-cowok di sekolah ini yang naksir sama kamu? Temen-temen di luar sekolah juga pastinya ada khan, yang jatuh cinta sama kamu?" tanyaku ke Indah di pagi yang setengah siang itu. Mendengar pertanyaan itu, Indah tersenyum ke arah saya. Kemudian dia menjawab gini "soalnya, kebanyakan orang yang naksir dan nyatain cinta sama aku itu, ngga' ngerti apa arti cinta. . . ."

Jawaban Indah terus terang membuat saya bingung? Bagaimana dia bisa tau bhwa cowok-cowok yang naksir sama dia, ngga' ngerti apa itu cinta? "emang gimana kamu bisa tau, kalo cowok-cowok yang nembak kamu, ngga' pada tau apa arti cinta?" Tanyaku ke Indah.
"emmm, begini Riz. Setiap kali ada laki-laki yang nyatain cinta sama aku. Aku akan minta dia bawain coklat yang paling enak, sebelum aku menjawab apakah aku menerima atau menolak dia." terang Indah.
Emang apa hubungannya, cinta sama coklat, Ndah?" tanyaku penasaran.
"Nah, itu dia Riz. Cinta itu sebenarnya identik dengan coklat. Kamu suka ngga' sama coklat?" Indah malah berbalik nanya ke saya.
"iya, aku suka banget sama coklat"
"emang kenapa kamu suka sama coklat?" tanya Indah lagi.
"ya, karna coklat itu khan emang enak, Ndah. Rasanya manis, udah gitu katanya coklat itu banyak manfaatnya buat tubuh kita. Tapi kurang b'manfaat buat dompet kita!" mendengar jawaban saya, Indah kembali tersenyum.

"kalo kamu suka coklat. Nich, aku punya coklat buat kamu". Lalu Indah menyodorkan sebatang coklat berukuran kecil, b'bntuk kotak yang terbungkus almunium foil. Saya pun menerima coklat itu, dan membuka bungkusnya.

"ich,apaan nich? kug pahit banget!!" komentar saya sambil meringis saat memakan coklat yang Indah kasih tadi.


"heuheuheu. . .itu dia riz, banyak orang yang ngomong suka sama coklat. Tapi sebenernya dia ngga ngrti apa itu coklat? Yang kamu suka itu, sebenernya bukan coklat yang sesungguhnya. Tapi coklat yang telah dibumbui dengan berbagai macam bahan lain. Seperti gula, susu, penyedap, dan lain sbagainya, yang membuat coklat itu jadi brasa manis, dan lezat. Kadang, kandungan coklat itu sendiri jauh lebih sedikit dibandìngkn bahan campurannya." jawab Indah sambil ketawa, melihat saya meringis saat memakan coklat yang dia kasih.
"memang bener, Riz. Coklat itu sangat bagus untuk tubuh kita. Tapì kenapa banyak orang yang suka makan coklat, mereka bukannya sehat, tapi malah menderita akibat dari coklat yang dimakannya? Hal itu juga karna campuran dari coklat itulah yang membuat kita menjadi tidak sehat. Campuran-campuran coklat tersebut bisa menyebabkan tubuh kita jadi tidak sehat seperti terkena obesitas, kencing manis, atau gigi jadi keropos."
"beda, dengan kandungan coklat aslinya. Yang justru membuat tubuh kita menjadi sehat. Karna coklat mengandung anti oksidan yang tinggi." keterangan dari Indah barusan, membuat saya jadi paham tentang seputar coklat. Dimana selama ini, saya telah salah menganggap bahwa yang namanya coklat itu, rasanya manis dan lezat.

"terus, apa hubungannya dengan cinta, Ndah?" saya jadi penasaran apa maksud dari perkataan Indah bahwa cinta itu seperti coklat.

"Gini, Riz. Pada dasarnya, cinta akan memberikan kebahagiaan kepada kita, dalam hidup ini. Sama seperti coklat yang akan membuat tubuh kita menjadi sehat, saat kita mengkonsumsinya. Tapi, kadang cinta yang kita jalani adalah cinta yang banyak dicampuri oleh bumbu-bumbu."
"contohnya, ketika ada orang yang saling jatuh cinta. Awalnya si cowok or cewek akan nembak pasangannya atas dasar cinta. Dan setelah yang ditembak menerima, apa yang akn terjadi?? Pasti mereka akan pacaran khan? Nah, pacaran itu adalah salah satu bumbu dari cinta. Setelah itu, mungkin karna dirasa kurang manis atau kurang lezat, maka kembali cinta itu dibumbui oleh hal-hal lain. Seperti; peluk'kan, ciuman, bahkan sampe 'ML'. Dan semua itu dilakukan dengan tetap mengatasnamakan cinta. Sama seperti sebatang coklat, yang meskipun lebih banyak bumbu campurannya itu sendiri, tapì tetep aja disebut sebagai coklat".
"nah, skarang kalo kamu setiap hari disuruh mengonsumsi coklat dengan merek dan rasa yang sama, yang awalnya kamu anggap paling enak dan manis. Maka apa yang akan kamu rasakan, Riz?" Indah kemudian bertanya ke saya.

"waduh, walaupun aku suka sama coklat itu. tapi kalo aku disuruh makan terus-terusan setiap hari, mungkin aku juga akan merasa bosenlaah! Dan yang pasti, aku akan tertarik untuk mencicipi coklat dengan merek ataupun rasa yang berbeda." jawab saya sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran saya.

"Yupz, itulah yang akan terjadi Riz. karna yang kamu inginkan bukanlah coklat yang sebenernya. melainkan bumbu-bumbu yabg terkandung pada coklat itu sendiri. maka kamu mungkin mempunyai keinginan untuk mencoba coklat merk lain, yang memberikan bumbu berbeda. Begitu juga halnya, ketika hubungan cinta lebih banyak dipenuhi oleh bumbu-bumbu yang lain. mungkin, lama-kelamaan pasangan tersebut akan merasa kebosanan. Dan menganggap bahwa diluar sana, ada cinta yang menawarkan sesuatu yang lebih indah, dibandingkan dengan cinta yang saat ini sedang dijalani. Maka saat itulah, hubungan cinta akan terasa hambar, dan rentan akan perpecahan. Dan kamu tau Riz, hampir semua cowok yang naksir dan nembak aku. Saat aku meminta mereka membawakan coklat yang paling enak, maka mereka akan membawakan coklat yang rasanya manis dan telah banyak tercampur bumbu-bumbu lain. Makanya, aku langsung menolak mereka saat itu juga."
{untung saya belum nembak}

Luar biasa, wow!! Benar-benar sebuah filosofi yang menarik tentang analogi coklat dengan cinta. Paling nggak, saya bisa belajar dari filosofi tersebut untuk bisa memberikan cinta yang murni, tanpa banyak dibumbui oleh hal-hal yang bisa merusak rasa cinta itu sndiri, buat pasangan saya nanti . . . .