Awal bulan puasa kemaren, saya mendapat undangan buat 'Buka Bareng' sama temen-temen
*Beberapa tahun yang lalu didepan toilet SD_05_kaliwungu . . .*
@Penulis: "Raya, mau nggak kamu jadi pacarku??"
@Raya : "mmm, aku pikir-pikir dulu ya..."
@Penulis: "Berapa lama???"
@Raya : "30 tahun . . ."
#TandaDitolak
Saya jadi heran, kenapa waktu itu Raya menolak cinta saya?? Secara place, sudah sangat tepat! Ya khan??? Secara face juga lebih memungkinkan. wajah saya lebih ganteng dari Budi Anduk ataupun Arip Pentol (sungguh perbandingan yang logis). Dan Secara finance juga tidak perlu diragukan lagi. Hanya dengan mendengar saya berjalan saja mungkin anda akan tau kalo isi dompet saya dolar semua ^krincing.. krincinngngn^. Tapi ya sudahlah, mungkin saat nolak saya, dia hanya khilaf!
Dengan mengenakan baju bergaris-garis merah lengan panjang saya memenuhi undangan tersebut. Seperti yang sudah saya duga, disana kita bercerita tentang jaman-jaman dulu. Ketika
#pletakk!#
Saya jadi galau setelah mendengar suara tersebut, sebenernya terbuat dari papan atau panci sich' kepalanya? Dan ada salah satu anak yang mendapat jitak awards karna suaranya lain daripada yang lain sewaqtu dijitak. Dia adalah arip pentol. Bunyinya gini "huaaa, emak!! sakit. . ."
"Nggak nyangka ya, lama ngga' ketemu udah banyak yang pada berubah" kata Devi memecah lamunan saya.
"iya, apalagi yang pake baju garis-garis merah lengan panjang. Tambah ganteng!" sambung Raya jujur dan penuh semangat
"tapi disini ada yang dari dulu nggak berubah-berubah loch!" kata Sida sambil menatap Arip Pentol penuh makna.
"Dulu dia item, dan sekarang. . . tetep!" tiba-tiba suasana ruangan kembali sunyi, dan semua penghuni ruangan mengarahkan pandangan matanya kepada Arip Pentol.
"Setelah mendengar celoteh Sida tadi, saya jadi ingat, kalo dulu ada tebak-tebakan yang sangat populer dan hampir semoa murid dari kelas satu sanpai kelas enam tau jawabannya: 'kenapa kaus kaki Arip Pentol berwarna coklat?' Jawabnya singkat: 'karna kelunturan kulit kakinya'
Sewaktu kembali dari shalat maghrib di mushola yang jaraknya hanya beberapa langkah dari rumah Raya, saya lihat cuman ada Dila di ruangan yang tadinya rame.
"eh' koq sendirian, mana anak-anak?" tanyaku ke Dila yang sedang asyik mencet-mencet
"Ada tuch' di dalem, lagi pada mau shalat" jawab Dila, masih dengan mencetin
"lah, kamu nggak ikutan shalat?"
"enggak. aku kan lagi libur"
"oh iya, sekarang kan hari libur nasional*gag nyambung*"
Dila bukan hanya temen SD saya, di SMP dia juga satu sekolah dengan saya. Dulu disekolah dia adalah salah satu murid yang menonjol. Banyak guru serta teman-teman di sekolah saya yang kagum dengan tonjolannya! Maksud saya, dengan kepintarannya. Dia sering banget jadi juara kelas. Bahkan dia sempat menduduki urutan pertama se-sekolahan. Dan kabarnya, setelah lulus SMA dia dapat beasiswa untuk belajar di Jepang. Makanya pas ngelihat dia sendirian, saya langsung ngedeketin, siapa tau dia kenal sama Miyabi (soalnya koleksi yang saya punya cuma itu saja, hehehehe).
Dalam sebuah kesempatan, saya bisa duduk berhadapan dan
"kok kamu mau jadi ibu rumah tangga sich, Dil? Emang susah ya, cari kerjaan di Jepang? Kenapa nggak cari kerja di sini aja?" Dila malah jawab gini ke saya
"Ris, aku disana jadi ibu rumah tangga bukan karna susah cari kerja. Tapi ini memang panggilan hati aku".
"maksudnya kaya' adzan gitu??" *itu panggilan shalat oON*
"Gini Ris. Mungkin kamu juga tau, dulu waktu sekolah aku cukup berprestasi. Malah bukannya mau nyombong, tapi aku sering juara satu sesekolah. Dan hal itu aku bisa dapatkan, karna aku mendapatkan perhatian, kasih sayang, dan pendidikan yang baik dari orang tuaku, terutama ibuku. Nah, sekarang aku mau anakku pun mendapatkan apa yang pernah aku dapatkan dulu. Aku mau anakku jadi seorang anak yang baik, berbakti, berprestasi, dan bisa bermafaat bagi banyak orang. Dan aku pikir, anakku akan bisa seperti itu kalo dia mendapatkan perhatian lebih dari aku, sebagai ibunya".
Setelah saya ayak' ternyata beber juga apa yang dibilang sama Dila. Saya lihat sekarang ini banyak anak-anak yang kurang mendapat perhatian, karna kesibukan orang tua mereka. Dan banyak diantara anak-anak tersebut yang terjerumus dan melakukan hal-hal menyimpang. Apa lagi banyak orang tua jaman sekarang yang nggak mau dipusingkan dengan perkembangan anaknya. Mereka lebih memilih untuk memasukkan anak-anak mereka ke sekolah atau tempat kursus yang mahal. Dengan harapan, anak-anak mereka bisa menjadi anak-anak yang berprestasi. Namun kenyataannya, anak-anak tersebut justru merasa stress dan tertkan. Yang lebih parahnya, hal itu bisa berakibat buruk bagi perkambangan mental si anak tersebut.
"Kadang kita berfikir bahwa uang itu adalah segalanya, Ris. Kit pikir dengan banyak uang, maka kita dan anak-anak kita akan lebih tinggi derajatnya. Tapi kamu tau nggak, pekerjaan apa yang justru kalo mendapatkan uang, malah bisa menurunkan derajat yang mengerjakannya?"
"hmmm, pekerjaan apa itu Dil?"
"Pekerjaan yang kalo mendapatkan uang melah menurunkan derajat yang mengerjakannya, adalah pekerjaan rumah tangga, Ris. Termasuk ngurus anak. Kalo yang menerjakan pekerjaan rumah tangga itu ngga' mendapatkan uang, maka pekerjanya disebut 'ibu rumah tangga'. Tapi kalo yang mendapatkan uang, pekerjanya disebut sebagai 'pembantu rumah tangga'"
Lucu juga apa yang dibilang sama Dila. Tapi emang bener sich'! Mungkin sebenernya banyak hal dalam hidup ini kalo hanya diukur dengan uang atau popularitas, maka menurut saya justru akan merendahkan derajat orang yang melakukannya. Seperti saya misalnya. Baru nulis dikit aja, udah pengen terkenal dan masuk TV. Padahal tiap hari udah masuk CCTV Indomaret. Dan ketika saya asyik ketawa bareng Dila, baru sadar. Ternyata dari tadi ada yang lagi mengawasi kita dari pintu depan.
"Dil, itu siapa Dil?? Bawa-bawa arit lagi Dil?" tanyaku ke Dila dengan gagah berani berdiri di belakangnya. Tiba-tiba orang terswbut masuk ke dalam, terus ngomong gini
"serramat maramm, nek." katanya sambil membungkukkan badan.
"loch, Dil. Dia cucu kamu??"
"Bukan! Dia suamiku. Yang dibawanya bukan arit, tapi samurai." jawab Dila.
"kalo suami, kenapa manggil kamu nek??"
"dia itu manggil nek-nya bukan ke aku, tapi ke kamu!"
"Haah, aku dipanggil nek??"
"iya, kalo di Jepang kata 'nek' itu biasanya ditujukan kepada orang yang belum dikenal" jelas Dila.
"fiuhhh, kirain dia tau kalo aku pernah jadi kenek angkot. Eh' betewe, suami kamu khan orang Jepang. Tapi kulitnya koq item ya?? atau jangam-jangan dia masih sepupuan sama Arip Pentol." tanyaku ke Dila lantang, karna saya kira suaminya baru bisa ngomong Indomesia hanya 'serramat maram' saja. Namun ternyata dia paham dengan apa yang baru saja saya katakan. Dan dia ngomong gini sambil nyabut samurainya.
"Kamu menghina saya, nekk. Dasar, sushi, kimchi, teriyaki, tempura miyabi nek!!" Seketika itu juga saya langsung lari dengan bertelanjang dada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar